Saturday, 28 September 2013

Bab : BERSIKAP PERTENGAHAN DALAM CINTA DAN BENCI



Diriwayatkan dari Aslam Al Adawi ; 'Umar bin Kaththab  رضي الله عنه berkata kepadaku ';

'Wahai Aslam ,Jangan sampai cintamu dipaksakan dan jangan sampai bencimu membinasakan.
Jika kau mencintai seseorang jangan sampai kau memaksakan diri seperti anak kecil yang memaksakan diri demi sesuai yang diinginkan.Dan jika kau membenci seseorang,jangan sampai membuatmu menginginkan orang yang kau benci binasa dan mati.'

Ertinya :

Jika kau mencintai seseorang ,jangan berlebihan seperti wanita dan anak kecil yang memaksakan diri ketika mengingikan sesuatu.Demikian pula saat kau membenci seseorang,jangan berlebihan sehingga mengharapkan orang yang kau benci binasa dan mati.

Taraf Atsar : Shahih
Diriwayatkan oleh : Abdurrazaq dalam Al Mushannaf (XII/181) ,Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad (no .1322) dan Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Tahzibul Atsar (1/223-224)


Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib  رضي الله عنه ,

'Cintailah kekasihmu seperlunya ,bisa jadi dia akan membencimu suatu hari nanti.Bencilah orang yang kau benci seperlunya sahaja,bisa jadi dia menjadi kekasihmu suatu hari nanti '

Taraf Atsar : SHAHIH
Diriwayatkan oleh : Diriwayatkan secara mauquf dan marfu' .Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad (no 1321) dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushanaf (XIV/102)

Syiah VS SUNNAH

Petikan tentang Syria dari akhbar : The Malaysian Insider
"Sebenarnya perang di sana adalah agenda perebutan kuasa dan tidak ada kaitan dengan perang antara Sunnah dengan Syiah sebagaimana yang digembar-gemburkan"

Jadi fatwa ulama seperti Syaikh Ali As-Sobuni, Syaikh Muhammad Al-Arifi, dan Syaikh Muhammad Hassan (Mesir) serta perhimpunan lebih 100 ulama di Mesir berkenaan jihad di syria tidak releven lagi mengikut kenyataan "beliau" ni.. 

http://my.news.yahoo.com/kepimpinan-ulama-dan-unit-amal-dari-iran-kata-230759814.html

Doa khatam QURAN

Do'a Khatam Al Qur'an

senandung_al_quran_khatam_khatamanKaum muslimin di negeri kita punya kebiasaan mengkhatamkan Al Qur’an, artinya membaca Al Qur’an seluruhnya hingga tuntas. Yang paling seringnya dilakukan di bulan Ramadhan penuh barokah. Setelah khatam ada do’a yang sering dibaca yang pasti di antara kita pernah mendengarnya,

اللهم ارحمني بالقرآن, واجعله لي إماماً, ونوراً, وهدى ورحمةً, اللهم ذَكِّرْني منه ما نسيت, وعلّمني منه ما جهلت, وارزقني تلاوته آناء الليل, واجعله لي حجة يا رب العالمين

“Allhummarhamni bilqur’an. Waj‘alhu li imaman wa nuran wa hudan wa rohmah. Allhumma dzakkirni minhu ma nasitu wa ‘allimni minhu ma jahiltu warzuqni tilawatahu aana-allaili waj‘alhu li hujatan ya rabbal ‘alamin” [Ya Allah sayangilah aku dengan sebab Al Qur’an dan jadikanlah Al Qur’an untukku sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk dan rahmat. Ya Allah, ingatkanlah aku akan ayat-ayat al Qur’an yang kulupa, ajarilah aku tentang isi Al Qur’an yang tidak aku ketahui dan berilah aku nikmat bisa membacanya di waktu malam. Jadikanlah Al Qur’an sebagai membelaku wa tuhan semesta alam].

Bagaimana dengan do’a di atas? Lalu adakah tuntunan atau do’a khusus setelah mengkhatamkan Al Qur’an? Simak bahasan sederhana berikut.

Keep in Mind ...

Perlu diketahui bahwa dalam ajaran nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak ada do’a khusus setelah mengkhatamkan Al Qur’an. Bahkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun atau pula para imam yang terkemuka tidak mengajarkan do’a khusus kala itu. Adapun katanya ada do’a khusus seperti yang termaktub di akhir mushaf Al Qur’an, bahkan ini disandarkan pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah-, hal itu sama sekali tidaklah benar. [Lihat Fatwa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, 14/226].

Macam Do’a Khatam Al Qur’an

Do’a khatam Al Qur’an ada dua macam. Ada yang membacanya setelah mengkhatamkan Al Qur’an ketika shalat, ada pula yang membacanya karena telah mengkhatamkan di luar shalat. Mengenai do’a karena mengkhatamkan Al Qur’an dalam shalat, maka ini sama sekali tidak ada asal usulnya. Adapun untuk mengkhatamkan Al Qur’an di luar shalat, maka ada riwayat dalam hal ini sebagaimana yang dipraktekkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Nantikan riwayat Anas di akhir bahasan.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apa hukum membaca do’a khatam Al Qur’an pada shalat malam di bulan Ramadhan?”

Syaikh rahimahullah menjawab, “Saya tidak mengetahui adanya tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai do’a khatam Al Qur’an ketika shalat malam di bulan Ramadhan. Aku pun tidak mengetahui dari para sahabat akan hal ini. Yang ada adalah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, di mana Anas ketika mengkhatamkan Al Qur’an, beliau mengumpulkan keluarganya, lalu mendo’akan kebaikan bagi mereka. Dan ingat ini dilakukan karena mengkhatamkan Al Qur’annya di luar shalat (bukan di dalam shalat). [Fatawa Arkanil Islam, hal. 354]

Riwayat Hadits Senandung Al Qur’an

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah memiliki risalah yang bermanfaat dalam hal ini, dengan judul “Juz-u fii Marwiyaat Du’a Khatmi al Qur’an, wa Hukmuha Dakhilus Sholah wa Khorijuha” (Bahasan khusus tentang riwayat-riwayat do’a khatam Al Qur’am, dan bagaimana hukumnya di dalam dan luar shalat). Di dalamnya beliau rahimahullah menyinggung do’a “Allahummar hamnii bil qur’aan ...”, yang lebih ma’ruf di kalangan kita disebut dengan “senandung Al Qur’an”. Bagaimana status riwayat do’a tersebut? Benarkah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Perlu diketahui bahwa hadits yang membicarakan do’a tersebut termasuk hadits mu’dhol yang dibawakan oleh Daud bin Qois. Hadits mu’dhol adalah di antara hadits yang lemah karena sanadnya terputus, yaitu ada dua perowi terputus secara berturut-turut.

Hadits di atas disebutkan oleh Al Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin 1/278. Tatkala as Subki membahas biografi Al Ghazali dalam Thabaqat As Syafi’iyyah Al Kubro 6/286-386, beliau menyebutkan hadits-hadits yang tercantum dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin namun pada realitanya tidak memiliki sanad. Di antara yang hadits yang disebutkan oleh as Subki adalah hadits di atas. Lihat Thabaqat As Syafi’iyyah Al Kubro 6/301.

Namun dalam Takhrij kitab Ihya ‘Ulumuddin untuk hadits-hadits yang ada dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin pada 1/287 al Hafizh al ‘Iraqi mengatakan, “Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Manshur Al Muzhaffar bin Al Husain Al Arjani dalam kitabnya Fadha-il Al Qur’an dan Abu Bakr bin al Dhahhak dalam Asy Syama-il. Sanad yang ada di dua kitab tersebut semuanya bersumber dari Abu Dzar Al Harawi dari Dawud bin Qois secara mu’dhol (ada dua perawi dalam sanadnya yang gugur secara berturut-turut)”.

Sedangkan Az Zarkasyi dalam buku Al Burhan 1/475 mengatakan bahwa hadits di atas diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Dala-il An Nubuwwah. Akan tetapi aku tidak menjumpai hadits tersebut dalam kitab Dala-il An Nubuwwah yang dicetak tahun 1405 H. Hadits di atas juga disebutkan oleh Al Ghafiqi dalam kitabnya Fadha-il Al Qur’an -yang masih berupa manuskrip-, akan tetapi beliau tidak menyebutkan siapa yang meriwayatkannya sebagaimana kebiasaan beliau. [Juz-u fii Marwiyaat Du’a Khatmi al Qur’an[1], hal. 256-257]

3 Macam Riwayat Do’a Setelah Khatam Al Qur’an

Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah, beliau katakan bahwa riwayat tentang do’a khatam Al Qur’an ada tiga macam:

Pertama, riwayat yang menunjukkan bhwa do’a khatam Al Qur’an adalah di antara waktu diijabahinya (terkabulnya) do’a. Riwayat tersebut berasal dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ada dua riwayat. Juga terdapat dalam riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Jabir radhiyallahu ‘anhu, Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dan perkataan Mujahid rahimahullah.

Kesimpulan Syaikh Bakr Abu Zaid mengenai macam riwayat pertama ini, “Tidak ada satu pun hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membicarakan bahwa do’a saat khatam Al Qur’an adalah do’a yang mustajab. Hadits yang menerangkan hal itu boleh jadi mawdhu’ (diriwayatkan oleh seorang pendusta) atau hanya perkataan Jabir. Tidak ada yang shahih kecuali hanya perkataan Mujahid (yang hanya seorang tabi’in).” [Juz-u fii Marwiyaat Du’a Khatmi al Qur’an, hal. 264]

Kedua, riwayat yang menjelaskan adanya do’a khusus setelah khatam Al Qur’an (sebagaimana senandung qur’an yang telah kami singgung di atas, pen). Hal ini terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Wazir bin Hubaisy dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, hadits mursal dari ‘Ali bin Al Husain rahimahullah, hadits mu’dhol dari Daud bin Qois rahimahullah.

Syaikh Bakr Abu Zaid menjelaskan mengenai macam riwayat yang membicarakan ada do’a khusus setelah khatam Al Qur’an, “Ada yang berasal dari hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, dalam sanadnya ada perowi yang pendusta (hadits mawdhu’). Ada pula dari hadits Abu Hurairah, namun tidak diketahui siapa yang mengeluarkan hadits itu. Ada juga hadits dari ‘Ali bin Al Husain yang hukumnya mursal (seorang tabi’in berkata langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) dan di dalamnya juga ada perowi yang dituduh berdusta dan dituduh berpaham Rofidhah (Syi’ah). Juga ada hadits dari Daud bin Qois di mana haditsnya mu’dhol (dua orang perowi yang berturu-turut terputus, artinya sanadnya tidak bersambung, pen). Begitu pula hadits Wazir bin Hubaisy dari ‘Ali sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu An Najaar dalam “Dzail Tarikh Baghdad”, namun nyatanya tidak ada dalam cetakan kitab tersebut. Dan bila disandarkan pada kitab tersebut, itu sudah menunjukkan dho’if (lemah)-nya.” [Juz-u fii Marwiyaat Du’a Khatmi al Qur’an, hal. 264]

Intinya, macam riwayat kedua ini tidak ada satu pun yang shahih, semuanya bermasalah. Sehingga kita katakan bahwa tidak ada hadits shahih yang membicarakan adanya do’a khusus setelah khatam Al Qur’an.

Ketiga, riwayat yang menjelaskan dikumpulkannya keluarga dan anak-anak lalu berdo’a kebaikan untuk mereka. Riwayat ini dari Anas radhiyallahu ‘anhu secara marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan mauquf (perkataan sahabat), juga ada riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Syaikh Bakr Abu Zaid membicarakan mengenai macam riwayat terakhir ini, “Riwayat yang membicarakan dikumpulkannya keluarga dan anak-anak ketika khatam Al Qur’an (lalu berdo’a kala itu, tanpa do’a yang dikhususkan, pen), maka riwayat tersebut berasal dari perbuatan sahabat –yang mulia- Anas radhiyallahu ‘anhu. Sedangkan jika dikatakan itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka riwayat tersebut tidak shahih (intinya, hanya perbuatan sahabat Anas saja, pen). Dan dalam atsar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menerangkan hal yang sama ada ‘illah (cacat di dalamnya), yaitu adanya inqitho’ (terputus) dan dalam sanadnya ada perowi matruk (yang dituduh berdusta).” [Juz-u fii Marwiyaat Du’a Khatmi al Qur’an, hal. 264]

Conclusion

Yang tepat, asal do’a setelah khatam Al Qur’an tidak diterangkan dalam satu hadits pun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ada hanyalah riwayat sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang jadi perbuatan beliau. Riwayat Anas tersebut diriwayatkan oleh Tsabit Al Banani, Qotadah, Ibnu ‘Athiyah dan selainnya,

كَانَ إِذَا خَتَمَ الْقُرْآنَ جَمَعَ أَهْلَهُ وَوَلَدَهُ ، فَدَعَا لَهُمْ

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah ketika khatam Al Qur’an mengumpulkan keluarga dan anaknya, lalu Anas berdoa untuk kebaikan mereka.” (HR. Ibnul Mubarok, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Nashr, Ibnu ‘Ubaid, Ibnu Adh Dhurais, Ibnu Abi Daud, Al Faryabi, Ad Darimi, Sa’id bin Manshur, Ath Thobroni, Al Anbari. Al Haitsami katakan bahwa dalam periwayat dalam sanad Thobroni adalah tsiqoh, kredible. Syaikh Al Albani katakan bahwa dalam riwayat Ad Darimi sanadnya shahih)

Dalam kesimpulan terakhir, Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah menjelaskan, “Riwayat dalam masalah do’a setelah khatam Al Qur’an tidak shahih sama sekali jika disandarkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah bagaimana berbagai kitab-kitab ulama Islam yang terkenal seperti kutubus sittah, Muwattho’, musnad Ahmad, berbagai tulisan ulama dalam Bab dzikir (seperti Ibnu Daqiq Al ‘Ied dalam Al Ilmam, Al Majd Ibnu Taimiyah dalam Al Muntaqo, Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom, dan selainnya), dalam kitab-kitab tersebut tidak menerangkan adanya do’a (khusus) setelah khatam Al Qur’an.” [Juz-u fii Marwiyaat Du’a Khatmi al Qur’an, hal. 265]

Jika ada yang mempraktekan seperti Anas bin Malik, yaitu dengan mengumpulkan keluarga lalu mendo’akan kebaikan bagi mereka, maka itu baik. Do’anya ini sifatnya umum dan tidak dikhususkan pada satu do’a saja.

Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.



Reference:

Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 65581, Syaikh Sholeh Al Munajjid, Asy Syamilah

Al Ajza’ Al Haditsiyah, Juz-u fii Marwiyaat Du’a Khatmi al Qur’an, wa Hukmuha Dakhilus Sholah wa Khorijuha, Syaikh Bakr Abu Zaid, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan pertama, 1416 H

itu sufi...

Perangai sufi...dengan wahabi/salafi cukup benci...dengan syiah punya sopan santun.tak malukah Ali jum'ah ini mengaku ahlussunnah tetapi mengatakan fikah syiah lebih maju dan membolehkan sunni mengambil fikah syiah??

Tuesday, 13 August 2013

Bismillaah.

Jika seseorang mengerti ADAB-ADAB dalam persahabatan, maka mereka akan sedar betapa besarnya NIKMAT tersebut yang telah mereka dapatkan namun sedikit sekali orang yang bersyukur dengan nikmat tersebut.

Firman Allah Jalla wa ‘ala:

“... dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya ...” [Aali Imraan: 103]

Hendaknya sesama saudara kita, saling kasih mengasihi dan tolong menolong di dalam kebaikkan dan saling berwasiat serta nasihat-menasihati dgn kebaikkan (amar ma‘ruf nahi mungkar). 

Jangan seperti kaum jahiliah, kita saling berselisih, saling menjatuhkan, saling berpaling wajah dan saling meninggalkan di antara satu dgn yg lain sekalipun pada saudara kita ada suatu perkara yg kita INGKARI (tidak disukai).[*]

Wallahu a‘lam.

# Faedah daripada Al-Ustadz Abu Mu‘awiyah Askari ~hafidzahullah~, dalam pembahasan kitab Adabul 'Isyrah wa Dzikru ash-Shuhbah wal Ukhuwwah (Adab Memperlakukan Orang Lain) karya Abul Barakat al-Ghazzi ~rahimahullah~.
Kata Prof. Dr Yusuf al-Qaradhawi hafizhahullah:

"Tidak aku ketahui seorang pun dalam kalangan anak-anak umat Islam yang membenci al-Syeikh Ibn Baz, melainkan orang tersebut ada gangguan pada agamanya, atau tercela pada akidahnya, atau juga ia telah diperdaya. Kerana sesungguhnya beliau (Ibn Baz) termasuk dalam kalangan orang-orang yang benar, iaitu orang-orang yang mempunyai ilmu lalu beramal, ketika beramal ia ikhlas, ketika ia ikhlas ia menjadi orang-orang yang benar." -Fi Wada' al-A'lam oleh Prof. Dr Yusuf al-Qaradhawi, m/s 64. Cetakan pertama, tahun 2003 Masihi. Dar al-Fikr al-Mu'ashir, Beirut-
Rasulullah SAW telah bersabda yang berraksud: "Janganlah kamu datang ke rumah orang berhadapan pintunya, tetapi datanglah dari bahagian tepinya dan mintalah izin, jika diizinkan untuk kamu, masuklah, kalau tidak, baliklah."

(Riwayat: At-Tabrani)


Huraian Hadith: 
1. Semulia-mulia manusia adalah mereka yang beradab dan tahu tata tertib setiap perkara yang dilakukannya.

2. Islam mengambilkira segala hal yang bersangkutan dengan kehidupan manusia termasuklah aspek hubungan sosial mereka dan menga
jarkan adab-adab yang tertentu demi mewujudkan suasana masyarakat yang aman dan harmoni.

3. Adab dalam berziarah contohnya disebutkan secara terperinci iaitu
i) Memberi salam terlebih dahulu
ii) Mengetuk pintu perlahan-lahan dan tidak melebihi tiga kali
iii) Berdiri bersebelahan pintu kerana dibimbangi jika yang membuka pintu itu adalah orang yang bukan muhrim
iv) Tidak masuk melainkan setelah mendapat keizinan
v) Tidak mengintai atau mengendap ke dalam rumah
vi) Duduk di tempat yang disediakan kerana tuan rumah lebih maklum tentang keadaan rumah mereka.

4. Berkunjung sebagai tetamu hendaklah memilih masa yang sesuai agar ia tidak menimbulkan keberatan kepada tuan rumah lebih-lebih lagi jika kedatangan tersebut didapati mengganggu urusan penting yang hendak dilaksanakannya.
Imam Shafie Rahimahullah :

i) semasa hidupnya beliau lantang menentang ilmu dari ahlil kalam. Tapi zaman sekarang, mereka yg mengaku bermazhab Shafie mengangkat dan memuja ilmu kalam.

ii) beliau mengharamkan istihsan (mengganggap baik sesuatu amalan), tapi sekarang mereka yg mengaku bermazhab Imam Syafie adalah pembela dan pengamal istihsan.

Allahul Musta'an.
Bismillahirrahmanirrahim. .

Firman Allah,

“Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” 
(QS. An-Nisaa: 128)

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”
(Q.S An-Nisaa: 135)

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. An-Nisaa: 58)
NAK KAYA??????? NIKAHLA,,,

bila ditanya kpd ramai sahabat ana: "BILA NAK NIKAH??
jawabnya: "TUNGGU DULU LA, DUIT PUN BELOM CUKUP"...

Allah SWT menjawab:

وَأَنكِحُوا اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian antara kamu, dan orang-orang yang layak (benikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An Nuur: 32).

Daripada ayat di atas, Ibnu Mas’ud RA berkata:

التمسوا الغنى في النكاح
“Carilah kaya (hidup berkecukupan) dengan menikah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azim mengenai tafsir ayat di atas).

Disebutkan pula dalam hadis bahawa Allah akan sentiasa menolong orang yang ingin menjaga kesucian dirinya melalui pernikahan. Daripada Abu Hurairah RA bahawasanya Rasulullah SAW bersabda tentang tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah, antaranya:

وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ
“… seseorang yang menikah krn ingin menjaga kesuciannya.” (HR. An Nasai dan At Tirmizi).
Saya menasihati sahabat2 FB agar berhati-hati dengan Page ini.Kita sedia maklum masyarakat di negara kita sudah sedar akan bahaya dan kesesatan Syiah Rafidhah.Jika sebelum ini mereka berani bergerak atas nama "Syiah" dan beberapa nama lain.Namun kali ini mereka akan bergerak dan berjuang atas tiket Human Rights "FREEDOM OF RELIGION".Sebab itu kita harus terus berwaspada dengan gerakan Pluralisme dan Liberalisme.

*P/S: Saya boleh bau Syiah dekat page ini apabila nama pergerakan ini "As-Sajjad Movement",dan kandungannya jelas banyak dilihat ingin membela Syiah Rafidhah.Persoalannya mengapa nama As-Sajjad digunakan?? 
https://www.facebook.com/pages/Assajjad-Movement/148115502024
Baru sahaja kita berpisah dengan bulan Ramadan, dan hari-hari yang dilalui ketika Ramadan masih terkesan dalam jiwa. Setelah itu kita disyariatkan oleh ALLAH untuk berhari raya supaya kita bergembira dan berbahagia setelah selama sebulan menunaikan kewajipan berpuasa kerana ALLAH. Disyariatkan hari raya memiliki hikmah dan tujuan yang besar, antaranya seperti yang dinyatakan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, iaitu supaya kaum Yahudi dan Nasrani mengetahui bahawa dalam agama kita terdapat kelapangan. Ini menunjukkan bahawa Islam adalah agama yang pertengahan.
Pertama kali perayaan ini disyariatkan adalah ketika Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam sampai ke Madinah. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahawa ALLAH telah menggantikan perayaan dan hari kebesaran yang ada dengan dua perayaan bagi umat Islam iaitu Idul Adha dan Idul Fitri, bahkan Baginda mengatakan bahawa dua perayaan ini adalah yang lebih baik berbanding perayaan-perayaan yang lain. Maka Umat Islam harus berbangga dan meraikan perayaan ini dan tidak mencari yang selain dari keduanya.
Idul fitri diraikan setelah kaum Muslimin melaksanakan kewajipan Rukun Islam berpuasa di bulan Ramadan dan ketaatan sepanjang bulan itu. Bukan sahaja berpuasa dari makan dan minum, tapi juga dari perbuatan mungkar dan lagha. Hanya setelah melaksanakan ketaatan, Allah menghadiahkan kegembiraan yang hanya layak dirasakan oleh orang yang menunaikan hak-hak ALLAH, iaitu orang yang jiwanya dekat dengan Allah. Itulah hari kemenangan bagi hamba Allah yang bertakwa.
Disebabkan Hari Raya merupakan suatu syariat, hendaklah kita perhatikan supaya dalam kita bergembira, kita tetap menjaga hak Allah. Ini kerana suatu syariat harus dilakukan seperti mana ia disyariatkan, dan tidak harus disertakan di dalamnya perkara yang mengundang murka ALLAH yang menyebabkan manusia jauh dari rahmatNya.
Semangat meneladani Rasulullah harus wujud supaya amalan yang dilakukan bernilai ibadah. Ini kerana jika amalan dilakukan sekadar ikut-ikutan, terpaksa, melakukan tanpa ilmu, atau kerana manusia dan kepentingan dunia, amalan itu hanyalah bernilai budaya dan rutin. Ini kerana syarat diterima ibadah adalah ikhlas dan ittiba’ (meneladani Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam). Selain daripada itu, amalan tidak bernilai ibadah yakni tidak ada nilainya di sisi ALLAH.
Maka berikut adalah di antara perkara yang harus sedaya upaya kita jauhi, ia telah tersebar di kalangan masyarakat;
Pertama, tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir. Tasyabbuh kafir adalah dilarang sama ada dalam urusan pakaian, tingkah laku, serta amalan-amalan yang khusus atau sinonim dengan orang kafir. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (Hasan. Riwayat Ahmad)
Antara amalan menyerupai orang kafir pada hari raya adalah seperti mendengar muzik dan nyanyian (kecuali duff yang dimainkan oleh anak perempuan kecil). Hari raya hakikatnya adalah hari untuk melahirkan kesyukuran dan menzahirkan pengagungan kepada ALLAH. Oleh kerana itu, umat Islam diperintahkan untuk bertakbir memuji ALLAH dan menzahirkan syariat dan identiti Muslim pada hari ini. Mendengar muzik dan nyanyian bercanggah dengan tuntutan ini, kerana telinga dan lidah yang dihiasi muzik mana mungkin dapat berzikir kepada Allah.
Amalan memasang muzik jelas merupakan hasil dari meniru budaya orang kafir. Malah di dalam hadis sahih riwayat Bukhari Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan datang sekelompok orang dari umatku yang menghalalkan zina, sutera (bagi lelaki), khamar (sesuatu yang memabukkan) dan alat muzik.” (Riwayat Al-Bukhari secara mu’allaq. Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata bahawa hadis ini sahih dan bersambung sesuai syarat sahih)
Hadis ini jelas menunjukkan bahawa zina, sutera, khamar (arak) dan alat muzik hukum asalnya adalah haram tetapi di akhir zaman ini akan ada golongan yang menghalalkannya. Ini adalah satu mukjizat Nabi di mana apa yang diucapkan oleh Baginda benar-benar menjadi kenyataan. Ibnu Mas’ud ra. ketika mentafsirkan perkataan ‘Lahwal Hadits’ (perkataan sia-sia) dalam dalam surat Luqman ayat 6 mengatakan yang dimaksudkan adalah Al-Ghinaa‘ (nyanyian).
Kedua, Tabarruj (mempamerkan kecantikan) bagi wanita dan keluarnya wanita dari rumah tanpa keperluan yang dibenarkan Syarak. Hal ini menyalahi firman Allah dalam surah Al-Ahzab ayat ke-33, “Dan hendaklah kamu (wanita) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu” (Surah Al-Ahzab: 33)
Ketiga, ikhtilath (percampuran lelaki dan perempuan) dan berjabat tangan antara lelaki dan wanita yang bukan mahram. Sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya jika kepala kamu ditusuk dengan besi, itu lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal dia sentuh.” (Silsilah Al-Ahadis Al-Sahihah)
Keempat, mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya dan membaca Al-Quran di kubur. Tujuan disyariatkan menziarah kubur adalah untuk mengingati kematian iaitu melahirkan rasa takut. Ini bercanggah dengan tujuan pensyariatan Hari Raya yang menuntut umat Islam bergembira dan bersenang hati.
Bahkan tidak ada dalil yang menunjukkan perintah Allah ataupun anjuran Nabi untuk menziarahi kubur pada Hari Raya. Untuk mengkhususkan suatu amalan berbentuk ibadah pada hari dan waktu tertentu perlu kepada dalil. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal suatu amalan (dalam urusan ibadah) di mana ia tidak termasuk dalam urusan kami, maka amalnya tertolak.” (Riwayat Muslim)
Rasulullah juga melarang menjadikan kubur sebagai tempat perayaan, juga melarang duduk di kubur dan menjadikan kubur sebagai tempat ibadah (termasuk membaca Al-Quran) seperti mana diriwayatkan dalam hadis-hadis sahih, antaranya sabda Baginda, “Janganlah kamu jadikan kuburku sebagai tempat perayaan dan berselawatlah kamu kepadaku kerana selawat itu akan sampai kepadaku dimana kamu berada.” (Sahih. Riwayat Abu Daud)
Dalam riwayat lain Baginda bersabda: “Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kubur para nabiNya sebagai masjid (tempat beribadah).” (Riwayat Bukhari).
Juga tidak dibolehkan membaca Al-Quran di kubur kerana Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu jadikan rumah kamu sebagai kubur, kerana sesungguhnya Syaitan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surah Al-Baqarah” (Riwayat Muslim). Ini menunjukkan bahawa rumah yang tidak dibacakan Al-Quran adalah seperti kubur, kerana kubur bukan tempat untuk membaca Al-Quran.
Kelima, membakar mercun sehingga mengganggu orang lain dan membuat orang terkejut. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lain dengan lisan dan tangannya.” (Riwayat Muslim). Begitu juga bentuk-bentuk gangguan yang lain.
Hidup manusia di dunia tidak lepas dari syariat Allah. Ini kerana tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah kepadaNYA. Firman Allah, “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (Al-Dzariyat: 56). Maka hendaklah sedaya upaya kita menjalani urusan harian khususnya urusan ibadah sesuai tuntutan sunnah agar ia benar-benar bernilai ibadah dan kita berhasil mendapat manfaatnya dan yang lebih penting jauh dari kemurkaan ALLAH.
Penulis adala Ketua Pegawai Eksekutif Pertubuhan Ilmuwan Malaysia

Sunday, 4 August 2013

ailatur qadar lebih baik dari seribu bulan..

Jadi jika dikatakan lailatur qadar bersamaan 83 tahun 4 bulan maka ia tidak tepat sama sekali,kerana lailatur qadar yang diberitahu dalam nas adalah lebih baik dari seribu bulan,yakni lebih baik dari 83 tahun 4bulan bukan bersamaan dengan 1000bulan atau 83 tahun 4 bulan..

عن أبي بردة عن أبي موسى ومعاذ: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بعثهما إلى اليمن يعلمان الناس أمر دينهم، أن لا يأخذوا الصدقة إلّا من هذه الأربعة: الحنطة والشّعير والتّمر والّبيب 

Daripada Abi Burdah daripada Abi Musa dan Muadz radhiyallahu anhum bahawa Rasulullah sallallahu alayhi wa sallam pernah mengutus keduanya ke Yaman menjadi da'ie di sana lalu baginda memerintahkan mereka agar tidak memungut zakat kecuali daripada empat macam ini iaitu: Gandum, sya'ir (sejenis gandum lain), tamar (kurma kering) dan anggur kering

HR al-Hakim dlm Mustadrak 'ala Sahihain dan al-Baihaqi, hadith ini sahih
Aku lihat RAMADHAN dari kejauhan... Lalu kusapa ia..."Hendak ke mana?" Dengan lembut ia berkata, "Aku harus pergi, mungkin JAUH & sangat LAMA... Tolong sampaikan pesanku untuk orang MUKMIN: Aku akan pergi...Syawal akan tiba... Sampaikan salam & terima kasihku untuknya karena telah menyambutku dengan suka cita dan melepas kepergianku dengan derai air mata. Kelak akan kusambut ia di SURGA dari pintu AR RAYAN".

Selamat meraih pahala terbaik di detik" terakhir RAMADHAN. Masih ada beberapa hari lagi untuk bercengkrama dgn RAMADHAN...

"Ya ALLAH, andai hari ini ada diantara hamba2-Mu yang Engkau angkat derajatnya, Engkau ampuni dosa2nya, Engkau lapangkan rizkinya, Engkau muliakan keturunannya, Engkau lepaskan dari semua kesulitannya, Engkau indahkan akhlaknya dan Engkau berkahi segala hartanya...

Maka Insya ALLAH jadikanlah saudaraku yg sdg membaca ini beserta Keluarganya se-baik2 hamba yg mendapatkannya
Perkara yg paling aku risaukan ialah golongan ahlul bidaah yg menyelinap dalam kelompok ahlul Sunnah dan memakai jenama Ahlul Sunnah walhal mereka menolak beberapa Sunnah Nabi dan mencipta amalan-amalan ibadat baru yg tiada dlm mana-mana Sunnah Rasulullah.
Kelompok ahli Sufi adalah penegak bidaah dlm agama.Mereka(sufi) sering mempromosikan diri sebagai Ahlul Sunnah Wal Jamaah sedangkan mereka(sufi) menolak beberapa Sunnah Nabi SAW dlm pengamalan syariat.Sangat hairan pada kelompok sufi ini,bagaimana mereka nak isbatkan diri mereka Ahlul Sunnah sedangkan mereka menolak beberapa Sunnah.
Takrif umum Ahlul Sunnah Wal Jamaah bermaksud kelompok orang Muslim yg mengikut cara ibadat,perbuatan,akhlak berdasarkan Sunnah Nabi SAW dan para Sahabat yg diiktiraf.Individu yg mengaku Muslim tapi menolak beberapa Sunnah Nabi SAW bukan Ahlul Sunnah sebaliknya pendusta terhadap Nabi SAW.
Kelompok Sufi,ialah satu kelompok yg berdusta diatas nama Ahlul Sunnah Wal Jamaah sedangkan para Sufi suka mencipta amalan-amalan ibadat yg bersifat baru serta berbohong dgn menyebarkan riwayat lsraeliyyat dan hadith Maudu'(palsu).
Ada sebahagian ahli Sufi menafikan lafaz bidaah yg diungkapkan Rasulullah SAW.Demi ALLAH,jika penafian tersebut kerana faktor kejahilan maka berprasangka baik lah,mudahan ALLAH ampuni atas kejahilannya namun,jika didatangkan keterangan hujah atau dalil yg konkrit tetapi masih menafikan,sesungguhnya aqidahnya gugur sebagai seorang Muslim.
Sufi kebanyakan terdiri dari kelompok bodoh dan jahil.Kebodohan semakin terserlah bila keangkuhan mendominasi jiwa mereka.Faktor keangkuhan tersebut,para Sufi tidak rasa berdosa menghambur fitnah kepada kelompok Ahlul Sunnah yg tulen.
Ada Sufi yg menafikan terus makna bidaah.Faktor kejahilan dlm Ulum Hadith menyebabkan mereka tidak tahu apa erti bidaah yg sebenar.Sehingga ada Sufi yg memperlecehkan takrif bidaah sehingga berani menafikan lafaz'bidaah' Nabi SAW ungkapkan didalam hadith-hadith baginda.
Sabda Rasulullah SAW:
"Jgn menokok tambah atau ada-adakan amalan yg tidak kami lakukan kerana setiap perkara yg diada-adakan adalah bidaah dan setiap bidaah itu mungkar dan setiap yg mungkar itu ke neraka."
(HR Abu Dawud/Shahih)
Alangkah malang ada para sufi menafikan lafaz bidaah yg Rasulullah SAW sabdakan dlm hadith Baginda.
Kesimpulan,Sufi bukan ahlul Sunnah tetapi Salafi adalah Ahlul Sunnah yg tulen dan asli.
Firman ALLAH(bermaksud):
"Barangsiapa yg mengikut akan Rasul maka sesungguhnya dia telah mengikut ALLAH"
(An-Nisa':80)
[ AL-QU'RAN ADALAH PENJELAS BAGI SIFAT-SIFAT ALLAH ]

Perlu renungi firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala apa yang Allah menyifatkan Al-Qu’ran:

- Al Furqaan (Pembeza antara Hak dan Bathil). Allah subhanahu wa ta’ala.

- Al Burhaan (Bukti) dan Nuur (Cahaya). 

- AlHuda, Syifa, Rahmah dan Mau’idzhah (Petunjuk). Penawar, Rahmat dan Peringatan.

-Mubiin (Jelas dan Nyata).

-Mufasshal (yang Diperincikan)

- Bayaan dan Tibyaan (Penjelasan dan Perincian)

Nama-nama dan sifat-sifat Al-Qu’ran Ini menunjukkan kita bahwa ia berada dalam kedudukan yang tertinggi dalam penerangan dan penjelasan, maka sudah tentu menolak kesamaran dan kekeliruan dan kejahilan terhadapnya dengan tiada pengecualian, barangsiapa yang mendakwa melalui AL-Quran tiada jalan kefahaman kepadanya maka telah mencela Al-Qu’ran dan telah menyangsikan maksud-maksudnya dan kecukupannya meleraikan masalah umat yang memerlukannya terlebih lagi dalam bab yang sangat agung iaitu Ketauhidan. 

1) Bagaimana boleh menjadi Furqan (Pembeza kepada kebenaran dan kebatilan) sekiranya tidak dapat membezakan ilmu dan Kejahilan serta Hak dan Bathil.

2) Bagaimana boleh jadi Burhan (Bukti apa yang tidak boleh dibolehkan) diambil sebagai hujah? (Dakwaan mengambil Zahir Al-Quran menyesatkan)

3) Bagaimana menjadi Cahaya sekiranya pembacanya terlungkup dalam kegelapan kejahilan?

4) Bagaimana menjadi petunjuk, penawar, rahmat dan peringatan sekiranya pembacanya tidak dapat apa-apa bahagian daripadanya melainkan lafaz-lafaz yang kosong daripada pertunjuk?

5) Bagaimana boleh menjadi jelas penjelas dan penerang sekiranya mereka yang mentafwidh tidak mewarisi melainkan makna-makna yang mujmal yang umum atau mtulak tanpa penjelasan kepada Nama-Nama dan sifat-sifat Allah subhanhu wa ta’ala yang tidak difahami maknaNya?

Para sahabat-sahabat daripada kalangan muhajirin dan Ansar, mereka lebih memahami nash-nash daripada mereka yang selepas mereka, sebab itu mereka tidak melebihi belajar 10 ayat sehingga mereka mengetahui makna-maknanya dan beramal dengannya. Sebagaimana dalam atsar Ibnu Mas’ud radhiAllahu dan juga atsar Masruuq yang menunjukkan sahabat adalah golongan yang lebih memahami lafaz-lafaz Al-Quran daripada mereka yang datang selepas mereka.

Firman ALLAH,

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً

“Dan sesiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (jalan para sahabat nabi), Kami biarkan dia hanyut dalam kesesatan yang telah dilakukannya dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” [Surah an-Nisaa’, 4: 115]

Yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah sebuah agama yang suci bersih lagi murni, iaitu Islam, bukan agama akal-akalan:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

“Sesungguhnya agama (yang diredhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” [Surah Ali Imran, 3: 19]

Dan agama ini telah pun sempurna sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah al-Ma’idah pada ayat yang ketiga. Tiada Ilmu Kalam dizaman Nabi dan para sahabat.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣)إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى

"dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemahuan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat". [Surah an-Najm, 53: 3-5]
Rasulullah sallallahu alayhi wa sallam bersabda:

الصدقة على السكين صدقة و على ذي الرحيم ثنتان صدقة صلة

Maksud: Sedeqah yg diberikan kepada orang miskin adalah berfungsi sebagai sedeqah, sedangkan sedeqah yg diberikan kepada kaum kerabat ada dua fungsi, yakni sebagai sedeqah dan sebagai silaturrahim.

HR at-Tirmizi, sahih
Dari Abdullah bin Umar berkata, "Kami dahulu pernah duduk-duduk bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau seringkali menyebutkan tentang fitnah (yg akan terjadi), hingga beliau menyebut fitnah ahlas.

Lalu ada yg bertanya, "Apakah fitnah ahlas itu?"

Beliau menjawab, "yaitu harob (saling bermusuhan & berperang) & charob (hilangnya harta & keluarga).
Beliau bersabda, "Kemudian datang setelah itu fitnah sarro (kesenangan), kotorannya berasal dari salah seorang AHLI BAITku, ia menganggap dari (golongan)ku padahal bukan. Sesungguhnya wali-waliku hanyalah orang yg bertaqwa."

Kemudian manusia akan berdamai di atas (kepemimpinan) seseorang yg tidak punya ketegasan.

Kemudian setelah itu datang fitnah duhaima (berat dan membabi buta), tidak ada seorangpun umat ini kecuali ia akan terkena fitnah tersebut. Bila diperkirakan akan selesai, ia malah semakin panjang. Pada waktu itu di pagi hari seseorang beriman, sore harinya menjadi kafir. Di sore hari mukmin, paginya menjadi kafir.

Hingga manusia (umat islam) pun menjadi dua kelompok; kelompok iman yg tidak ada padanya kemunafikan. Dan kelompok munafik yg tidak ada padanya iman.

Bila hal itu telah terjadi, maka tunggulah dajjal keluar di hari itu atau keesokan harinya.
(HR Ahmad, Abu Dawud).

Hadits yg membuat merinding bulu roma..
Bagaimana tidak..
Sekarang kita berada di zaman sarro..
Kenikmatan..
Dan kesenangan..
Ternyata Kotorannya berasal dari sebagian ahlu bait Nabi..
Mereka menganggap dari golongan Rasulullah..
Padahal bukan..
Ini menunjukkan..
Sebatas keturunan Nabi bukanlah jaminan selamat dari kesesatan..
Lalu..
Akan datang fitnah yg berat & membabi buta..
Akankah kita mengalami fitnah duhaima itu...
Ya Rabb.. Apabila ternyata kami mengalaminya..
Maka wafatkan kami dalam keadaan hati kami tidak terfitnah..
Kokohkan hati kami di atas iman..
Kuatkan kami..
Tegarkan kami..
La haula walaa quwwata illaa billaah..

Ditulis Oleh Ustadz Badrusalam, Lc
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan kepada fakir miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum sollat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah sollat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

FAEDAH HADITH :
1- Sebagai Penyucian bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta catat (kekurangan) saat puasa. Jadilah kebaikan di hari raya menjadi sempurna.

2- Untuk memberi makan kepada fakir miskin dan mencukupi keperluan mereka sehingga tidak perlu meminta-minta di hari raya, sekaligus membahagiakan mereka di hari raya. Jadilah hari raya itu menjadi hari kebahagiaan.

3- Bentuk saling berbuat memberi kebaikan antara orang kaya dan orang miskin di hari raya.

4- Mendapat pahala karena telah menunaikan zakat pada yang berhak menerima di waktu yang telah ditentukan.

5- Zakat fithri adalah zakat untuk badan yang Allah tetapkan setiap tahunnya di hari raya Idul Fithri.

6- Zakat fithri adalah bentuk syukur setelah puasa itu sempurna.
(Az Zakat fil Islam, 322-324)