Sunday, 6 January 2013
khas kepada pengadu2 domba
Untuk
yang masih suka melanggar kehormatan saudara muslimnya dengan menyebar
berita2 yang dia sendiri tidak mengetahui hakekat kebenarannya. Perlu
diingatkan agar mendahulukan apa yang diketahuinya dengan pasti, diatas
berita-berita yang tidak diketahuinya dengan pasti.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا: قِيْلَ وَقَالَ, وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ
Sesungguhnya Allah membenci tiga hal untuk kalian: Qila wa qola
(katanya, katanya atau desas desus), membuang-buang harta, dan banyak
bertanya (hal yang tidak penting). (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud).
اَلْيَقِيْنُ لَا يُزَالُ بِا لشَّكِّ
" Keyakinan tidak bisa dikalahkan dengan adanya keraguan”
Al-yaqin la yuzal bi al-syak, adalah sebuah kaidah fiqh. Imam An-Nawawi
dalam kitabnya: Syarh Shahih Muslim hal 91 menyatakan bahwa, YAKIN
secara sederhana dimaknai sebagai ketetapan hati (Thuma’ninah al-qalb)
atas suatu KENYATAAN atau REALITAS tertentu. Lawan kata dari yakin
adalah syak. Adapun yang di maksud dengan al-syak disini adalah suatu
pertentangan antara kepastian dengan ketidak-pastian dengan kekuatan
yang sama.
Kaidah ini dibangun salah satunya atas dasar firman Allah
Ta'ala: Dalam QS. Yunus ayat 36 yang berbunyi : "dan kebanyakan mereka
tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu
tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan". Ayat ini pada mulanya
menyoroti karakter orang-orang musyrik yang seringkali berpegang pada
prasangka-prasangka yang tidak bisa di buktikan kebenarannya.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Da’maa yuriibuka, ilaa
maa laa yariibuk" . ”Tinggalkan apa yang meragukanmu, (beralihlah)
kepada apa yang tidak meragukanmu.” (Arba’in Nawawi No. 11)
Aplikasi kaidah ini banyak sekali, yang intinya: KITA DAHULUKAN APA YANG
NYATA MENJADI KEYAKINAN, DIATAS PRASANGKA YANG BERDASAR KEMUNGKINAN.
Monday, 31 December 2012
Yang Ada Hanyalah Berkurangnya Umur
Yang Ada Hanyalah Berkurangnya Umur
Tidak ada awal dan akhir tahun, yang ada hanyalah umur yang semakin
berkurang. Kenapa sebagian orang lebih girang menyambut awal tahun?
Padahal ulama dahulu begitu sedih jika makin hari terus dilewati, di
mana ajal semakin dekat. Bahkan mereka -para salaf- sampai bersedih jika
waktunya berlalu tanpa amal sholih. Yang mereka terus pikirkan adalah
ajal yang semakin dekat, namun amal sholih yang masih kurang.
Tanda Kebaikan Islam: Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat
Menunggu satu waktu saja tanpa amalan, itu sudah membuang-buang waktu.
Karena ingatlah saudaraku bahwa waktu itu amat berharga bagi seorang
muslim. Jika ia benar-benar menjaganya dalam ketaatan pada Allah atau
dalam hal yang bermanfaat, itu menunjukkan kebaikan dirinya. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak
bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al
Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Jika Islam
seseorang itu baik, maka sudah barang tentu ia meninggalkan pula perkara
yang haram, yang syubhat dan perkata yang makruh, begitu pula
berlebihan dalam hal mubah yang sebenarnya ia tidak butuh. Meninggalkan
hal yang tidak bermanfaat semisal itu menunjukkan baiknya seorang
muslim. Demikian perkataan Ibnu Rajab Al Hambali yang kami olah secara
bebas (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 289).
Jika kita menyia-nyiakan waktu, itu tanda Allah melupakan kita. ‘Arif Al Yamani berkata,
إن من إعراض الله عن العبد أن يشغله بما لا ينفعه
“Di antara tanda Allah berpaling dari seorang hamba, Allah
menjadikannya sibuk dalam hal yang sia-sia.” (Hilyatul Awliya’, 10:
134).
Waktu itu Begitu Berharga, Wahai Saudaraku
Waktu amat berharga, wahai saudaraku. Ia tidak mungkin kan kembali setelah berlalu pergi.
الوقت أنفاس لا تعود
“Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.”
Syaikh ‘Abdul Malik Al Qosim berkata, “Waktu yang sedikit adalah harta
berharga bagi seorang muslim di dunia ini. Waktu adalah nafas yang
terbatas dan hari-hari yang dapat terhitung. Jika waktu yang sedikit itu
yang hanya sesaat atau beberapa jam bisa berbuah kebaikan, maka ia
sangat beruntung. Sebaliknya jika waktu disia-siakan dan dilalaikan,
maka sungguh ia benar-benar merugi. Dan namanya waktu yang berlalu tidak
mungkin kembali selamanya.” (Lihat risalah “Al Waqtu Anfas Laa Ta’ud”,
hal. 3)
Tanda waktu itu begitu berharga bagi seorang muslim karena kelak ia akan ditanya, di mana waktu tersebut dihabiskan,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ
عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ
مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا
أَبْلاَهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari
kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan,
(2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan
(4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.”
(HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Menyia-nyiakan waktu hanya
untuk menunggu-nunggu pergantian waktu, itu sebenarnya lebih parah dari
kematian. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Fawa-id berkata,
اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ
تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ
الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا
“Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah
dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat)
Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari
dunia dan penghuninya.”
Imam Syafi’i pernah mendapat nasehat dari seorang sufi,
الوقت كالسيف فإن قطعته وإلا قطعك، ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل
“Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang
malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan,
pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.” Lihat Madarijus Salikin,
Ibnul Qayyim, 3: 129.
Mereka Selalu Menyesal Jika Waktu Berlalu Sia-Sia, Sedangkan Kita?
Basyr bin Al Harits berkata,
مررت برجل من العُبَّاد بالبصرة وهو يبكي فقلت ما يُبكيك فقال أبكي على ما فرطت من عمري وعلى يومٍ مضى من أجلي لم يتبين فيه عملي
“Aku pernah melewati seorang ahli ibadah di Bashroh dan ia sedang
menangis. Aku bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Ia menjawab,
“Aku menangis karena umur yang luput dariku dan atas hari yang telah
berlalu, semakin dekat pula ajalku, namun belum jelas juga amalku.”
(Mujalasah wa Jawahir Al ‘Ilm, 1: 46, Asy Syamilah).
Jangan Jadi Orang yang Menyesal Kelak
Sebagian orang kegirangan jikalau ia diberi waktu yang panjang di
dunia. Bahkan inilah harapan ketika nyawanya telah dicabut, ia ingin
kembali di dunia untuk dipanjangkan umurnya supaya bisa beramal sholih.
Orang-orang seperti inilah yang menyesal di akhirat kelak, semoga kita
tidak termasuk orang-orang semacam itu. Allah Ta’ala berfirman,
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي
أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ
قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia
berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal
yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.
Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan
mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan” (QS. Al Mu’minun:
99-100).
Ketika orang kafir masuk ke neraka, mereka berharap
keluar dan kembali ke dunia dan dipanjangkan umur supaya mereka bisa
beramal. Allah Ta’ala berfirman,
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا
رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ
النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
“Dan
mereka berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami
niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang
telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam
masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah
tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab
Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.”
(QS. Fathir: 37).
Dalam ayat lainnya disebutkan pula,
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ
رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا
مُوقِنُونَ
“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika
orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya,
(mereka berkata): "Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka
kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh,
sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin."” (QS. As Sajdah: 12).
وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَى مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ
“Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat
azab berkata: "Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?"” (QS. Asy
Syura: 44).
قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ
وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى
خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ ذَلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ
كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ
الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ
“Mereka menjawab: "Ya Tuhan kami Engkau
telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali
(pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan
(bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?" Yang demikian itu adalah karena
kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah
dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha
Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Ghafir: 11-12).
Qotadah
mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil
yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari
menyia-nyiakan umur yang panjang dalam hal yang sia-sia.” (Lihat Tafsir
Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553, pada tafsir surat Fathir ayat 37)
Renungkan: Umurmu yang Berkurang
Tidak ada awal dan akhir tahun, yang ada hanyalah umur yang semakin
berkurang. Mengapa kita selalu berpikir bahwa umur kita bertambah, namun
tidak memikirkan ajar semakin dekat? Benar kata Al Hasan Al Bashri,
seorang tabi’in terkemuka yang menasehati kita agar bisa merenungkan
bahwa semakin bertambah tahun, semakin bertambah hari, itu berarti
berkurangnya umur kita setiap saat.
Hasan Al Bashri mengatakan,
ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala
satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Hilyatul
Awliya’, 2: 148)
Al Hasan Al Bashri juga pernah berkata,
لم يزل الليلُ والنهار سريعين في نقص الأعمار ، وتقريبِ الآجال
“Malam dan siang akan terus berlalu dengan cepat dan umur pun
berkurang, ajal (kematian) pun semakin dekat.” (Jaami’ul ‘Ulum wal
Hikam, 2: 383).
Semisal perkataan Al Hasan Al Bashri juga
dikatakan oleh Al Fudhail bin ‘Iyadh. Beliau rahimahullah berkata pada
seseorang, “Berapa umurmu sampai saat ini?” “Enam puluh tahun”,
jawabnya. Fudhail berkata, “Itu berarti setelah 60 tahun, engkau akan
menghadap Rabbmu.” Pria itu berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi
rooji’un.” “Apa engkau tidak memahami maksud kalimat itu?”, tanya
Fudhail. Lantas Fudhail berkata, “Maksud perkataanmu tadi adalah
sesungguhnya kita adalah hamba yang akan kembali pada Allah. Siapa yang
yakin dia adalah hamba Allah, maka ia pasti akan kembali pada-Nya. Jadi
pada Allah-lah tempat terakhir kita kembali. Jika tahu kita akan kembali
pada Allah, maka pasti kita akan ditanya. Kalau tahu kita akan ditanya,
maka siapkanlah jawaban untuk pertanyaan tersebut.” Lihat percakapan
Fudhail ini dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 383.
Jadi
sungguh keliru, jika sebagian kita malah merayakan ulang tahun karena
kita merasa telah bertambahnya umur. Seharusnya yang kita rasakan adalah
umur kita semakin berkurang, lalu kita renungkan bagaimanakah amal kita
selama hidup ini?
Bukankah yang Islam ajarkan, kita jangan
hanya menunggu waktu, namun beramallah demi persiapan bekal untuk
akhirat. Ibnu ‘Umar pernah berkata,
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ
تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ،
وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi.
Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu
sehatmu sebelum datang sakitmu, dan isilah masa hidupmu sebelum datang
matimu.” (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini mengajarkan untuk tidak
panjang angan-angan, bahwa hidup kita tidak lama.
‘Aun bin
‘Abdullah berkata, “Sikapilah bahwa besok adalah ajalmu. Karena begitu
banyak orang yang menemui hari besok, ia malah tidak bisa
menyempurnakannya. Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur,
ia malah tidak bisa menemui hari esok. Seharusnya ketika engkau
mengingat kematian, engkau akan benci terhadap sikap panjang
angan-angan.” ‘Aun juga berkata,
إنَّ من أنفع أيام المؤمن له في الدنيا ما ظن أنَّه لا يدرك آخره
“Sesungguhnya hari yang bermanfaat bagi seorang mukmin di dunia adalah
ia merasa bahwa hari besok sulit ia temui.” Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal
Hikam, 2: 385.
Di Balik Menunggu Pergantian Tahun
Setelah kita merenungkan berbagai nasehat di atas, moga yang berhati
lembut bisa sadar bahwa waktu itu begitu berharga walau 1 detik saja.
Namun coba lihatlah perayaan tahun baru yang dirayakan kaum muslimin
saat ini, sungguh menyia-nyiakan waktu dan umurnya sendiri. Kadang yang
wajib seperti shalat ditinggalkan hanya karena bela-belain menunggu
pergantian tahun. Kadang pula di awal tahun malah diisi dengan maksiat
dan penghamburan harta. Seharusnya yang dipikirkan adalah bukannya
datangnya pergantian tahun atau bertambahnya umur. Yang mesti dipikirkan
adalah umur kita senyatanya semakin berkurang, sehingga seharusnya amal
sholih yang harus kita tingkatkan. Inilah yang lebih urgent.
Kalau kita yakin umur kita berkurang, waktu ajal kita semakin dekat, lantas apa gunanya merayakan [?]
Intinya, perayaan tahun baru punya berbagai sisi kerusakan di antaranya:
1- Merayakan perayaan non-muslim karena perayaan ini tidak pernah ada dalam Islam.
2- Mengikuti budaya orang kafir.
3- Berbagai maksiat dan bid’ah yang muncul saat perayaan tahun baru.
4- Meremehkan shalat lima waktu karena sibuk begadang.
5- Begadang untuk menunggu pergantian tahun pun sia-sia.
6- Seringnya mengganggu kaum muslim dengan petasan dan semacamnya.
7- Meniru perbuatan setan dengan bersikap boros.
Mengenai kerusakan dalam perayaan tahun baru di atas telah diuraikan di
artikel Rumaysho.com: 10 Kerusakan dalam Perayaan Tahun Baru.
Semoga menjadi nasehat berharga bagi kita semua. Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
@ Maktabah Al Amir Salman, KSU, Riyadh-KSA, 17 Shafar 1434 H
Mampu Menggauli 100 Bidadari
Mampu Menggauli 100 Bidadari
·
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي
الله عنه قَالَ : قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ , هَلْ نَصِلُ إِلَى
نِسَائِنَا فِي الْجَنَّةِ؟ فَقَالَ: «إِنَّ الرَّجُلَ لَيَصِلُ فِي
الْيَوْمِ إِلَى مِائَةِ عَذْرَاءَ»
Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, ia berkata: diantara para sahabat
ada yang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kami akan bertemu dengan
istri kami kelak di surga?’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab: “Seorang lelaki dalam sehari akan bertemu (baca:berjima’) dengan 100 bidadari” (HR. Al Bazzar dalam Musnad-nya 3525, Abu Nu’aim dalam Shifatul Jannah 169, Ath Thabrani dalam As Shaghir, 2/12)Dalam riwayat lain:
قيل : يا رسول الله هل نفضي إلى نسائنا في الجنة ؟ قال : إن الرجل ليفضي في اليوم إلى مائة عذراء
“Wahai Rasulullah, apakah kami akan berjima’ dengan istri-istri
kami di surga kelak? Sungguh seorang lelaki dalam sehari akan berjima’
dengan 100 bidadari“Derajat Hadits
Al Hafidz Ibnu Katsir men-shahih-kan hadits ini (Tafsir Ibni Katsir, 3/292). Al Maqdisi berkata: “Menurutku, semua perawinya tsiqah sesuai dengan syarat hadits shahih”. Al Albani berkata: “Aku sependapat dengan Al Hafidz Ibnu Katsir, dan itulah yang benar. Sanad hadits ini shahih dan kami tidak mengetahui adanya catat di dalamnya. Namun memang Abu Hatim dan Abu Zur’ah memiliki pandangan berbeda” (Silsilah Ahadits Shahihah, 1/708)
Faidah Hadits
- Adanya surga dan kenikmatan di dalamnya
- Adanya bidadari di surga
- Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengetahui sebagian perkara gaib, sebatas yang dikabarkan oleh Allah kepada beliau.
- Salah satu kenikmatan surga adalah seorang lelaki memiliki kekuatan
menggauli 100 wanita dalam sehari. Sebagaimana dalam hadits lain:
إن الرجل من أهل الجنة يعطى قوة مائة رجل في الأكل والشرب والشهوة والجماع“Sungguh seorang lelaki penduduk surga diberi kekuatan sebagaimana 100 orang lelaki, dalam hal makan, minum, syahwat dan jima’“(HR. Ahmad no.18509. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Mawarid 2230)
- Andai 100 wanita digauli dalam sehari maka tentu lelaki penghuni
surga tersebut sangat sibuk. Demikianlah salah satu kesibukan penduduk
surga. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:
إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ“Sungguh para penduduk surga itu dalam kesibukan yang menyenangkan” (QS. Yasin: 55)
Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Musayyib, Ikrimah, Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Al A’masy, Sulaiman At Taimi, Al Auza’i semuanya menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah mereka sibuk menggauli para perawan. (Tafsir Ibni Katsir, 6/582) - Istri shalihah di dunia akan menjadi istri di surga kelak bagi
lelaki shalih. Jika seorang lelaki pernah menikah beberapa kali atau ia
berpoligami, maka semua istrinya di dunia akan menjadi istrinya di surga
kelak. Sedangkan bila seorang wanita pernah menikah beberapa kali di
dunia, maka lelaki yang menjadi suaminya adalah yang terakhir.
Sebagaimana hadits:
أن حذيفة قال لزوجته: إن شئت تكوني زوجتي في الجنة فلا تزوجي بعدي، فإن المرأة في الجنة لآخر أزواجها في الدنيا“Hudzaifah berkata kepada istrinya: ‘Kalau engkau ingin menjadi istriku di surga kelak, maka jangan menikah lagi sepeninggalku. Karena seorang wanita di surga akan menjadi istri dari suaminya yang terakhir di dunia‘” (HR. Al Baihaqi, no.13421)
- Selain beristrikan wanita yang menjadi istrinya di dunia, lelaki
penghuni surga juga akan beristrikan bidadari-bidadari surga.
Sebagaimana firman Allah:
كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ“Demikian juga kami nikahkan mereka dengan para bidadari surga” (QS. Ad Dukhan: 54)
- Para ulama mengatakan, hadits ini bukan menunjukkan bahwa jumlah
istri penduduk surga adalah 100. Melainkan hanya menunjukkan kemampuan
jima’ para lelaki penduduk surga, yaitu sebagaimana kekuatan 100 orang
lelaki. Mengenai jumlah istri, kebanyakan penduduk surga memiliki dua
istri:
أول زمرة تلج الجنة صورتهم على صورة القمر ليلة البدر ، لا يبصقون فيها ولا يمتخطون ولا يتغوطون ، آنيتهم فيها الذهب ، أمشاطهم من الذهب والفضة ، ومجامرهم الألوة ، ورشحهم المسك ، ولكل واحد منهم زوجتان“Rombongan yang pertama kali masuk surga berbentuk rembulan di malam purnama. Mereka tidak akan meludah, tidak akan berdahak, dan tidak akan buang air di dalamnya. Bejana-bejana dan sisir-sisir mereka terbuat dari emas dan perak. Tempat bara api mereka terbuat dari kayu wangi. Keringat mereka adalah minyak kesturi. Setiap mereka memiliki dua istri..” (HR. Al-Bukhari no. 3245 dan Muslim no. 5065)
Adapun para syuhada, beristrikan 72 bidadari kelak di surga:
للشهيد عند الله ست خصال : يغفر له في أول دفعة ويرى مقعده من الجنة ، ويجار من عذاب القبر ، ويأمن من الفزع الأكبر ، ويوضع على رأسه تاج الوقار ، الياقوتة منها خير من الدنيا وما فيها ، ويزوج اثنتين وسبعين زوجة من الحور العين ، ويشفع في سبعين من أقاربه“Orang yang mati syahid di sisi Allah akan diberi enam keutamaan: Allah mengampuni dosanya ketika pertama kali darahnya keluar, ia dapat melihat tempat duduknya kelak di surga, ia dijauhkan dari adzab kubur, ia mendapat keamanan tatkala hari kebangkitan, di kepalanya ia memakai mahkota kehormatan berhias batu rubi yang lebih baik dari dunia dan seisinya, ia dinikahkan dengan 72 bidadari, ia dapat memberi syafa’at kepada 70 orang kerabatnya” (HR. At Tirmidzi no 1663, ia berkata: “Hasan Shahih Gharib”) - Jika kita renungkan, sungguh betapa malangnya para pezina dan para pengumbar syahwat ke tempat yang tidak halal. Mereka menukar kenikmatan yang luar biasa dengan kenikmatan sesaat yang hina di dunia.
- Salah satu benteng pertahanan seorang lelaki muslim dari dosa zina adalah dengan mengingat-ingat kenikmatan syahwat di surga dan berusaha istiqamah untuk mendapatkannya.
=MUSLIM Tidak Merayakan Tahun Baru==
==MUSLIM Tidak Merayakan Tahun Baru==
Komisi Fatwa Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ ditanya,
“Apakah boleh mengucapkan selamat tahun baru Masehi pada non muslim,
atau selamat tahun baru Hijriyah atau selamat Maulid Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam? ”
Al Lajnah Ad Daimah menjawab,
لا تجوز التهنئة بهذه المناسبات ؛ لأن الاحتفاء بها غير مشروع
“Tidak boleh mengucapkan selamat pada perayaan semacam itu karena
perayaan tersebut adalah perayaan yang tidak masyru’ (tidak
disyari’atkan).”
Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘alihi wa shohbihi wa sallam.
Yang menandatangani fatwa ini:
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh selaku ketua;
Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan,
Syaikh Sholih Al Fauzan,
Syaikh Bakr Abu Zaid selaku anggota.
[Soal pertama dari Fatwa no. 20795]
Sunnahnya Mengakhirkan Shalat Isya
Sunnahnya Mengakhirkan Shalat Isya
Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:
أَعْتَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اللَّيْلِ وَحَتَّى نَامَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى فَقَالَ إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي
“Suatu malam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat ‘atamah (isya`) sampai berlalu sebagian besar malam dan penghuni masjid pun ketiduran, setelah itu beliau datang dan shalat. Beliau bersabda: “Sungguh ini adalah waktu shalat isya’ yang tepat, sekiranya aku tidak memberatkan umatku.” (HR. Muslim no. 638)
Dari Jabir bin Samurah -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤَخِّرُ صَلَاةَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mengakhirkan shalat isya.” (HR. Muslim no. 643)
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
أَعْتَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعِشَاءِ حَتَّى نَادَاهُ عُمَرُ: الصَّلاَةُ، نَامَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ. فَخَرَجَ فَقَالَ: مَا يَنْتَظِرُهَا أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ غَيْرُكُمْ. قَالَ: وَلاَ يُصَلَّى يَوْمَئِذٍ إِلاَّ بِالْمَدِيْنَةِ، وَكاَنُوْا يُصَلُّوْنَ فِيْمَا بَيْنَ أَنْ يَغِيْبَ الشَّفَقُ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ
“Rasulullah mengakhirkan shalat isya hingga malam sangat gelap sampai akhirnya Umar menyeru beliau, “Shalat. Para wanita dan anak-anak telah tertidur.” Beliau akhirnya keluar seraya bersabda, “Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menanti shalat ini kecuali kalian.” Rawi berkata, “Tidak dikerjakan shalat isya dengan cara berjamaah pada waktu itu kecuali di Madinah. Nabi beserta para sahabatnya menunaikan shalat isya tersebut pada waktu antara tenggelamnya syafaq sampai sepertiga malam yang awal.” (HR. Al-Bukhari no. 569 dan Muslim no. 1441)
Dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu dia berkata:
أَبْقَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلاَةِ الْعَتَمَةِ، فَأَخَّرَ حَتَّى ظَنَّ الظَّانُّ أَنَّهُ لَيْسَ بِخَارِجٍ، وَالْقَائِلُ مِنَّا يَقُوْلُ: صَلَّى. فَإِنَّا لَكَذَلِكَ حَتَّى خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوْا لَهُ كَماَ قَالُوْا. فَقَالَ لَهُمْ: أَعْتِمُوْا بِهَذِهِ الصَّلاَةِ، فَإِنَّكُمْ قَدْ فَضَّلْتُمْ بِهَا عَلَى سَائِرِ الْأُمَمِ وَلَمْ تُصَلِّهَا أُمَّةٌ قَبْلَكُمْ
“Kami menanti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat isya (‘atamah), ternyata beliau mengakhirkannya hingga seseorang menyangka beliau tidak akan keluar (dari rumahnya). Seseorang di antara kami berkata, “Beliau telah shalat.” Maka kami terus dalam keadaan demikian hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, lalu para sahabat pun menyampaikan kepada beliau apa yang mereka ucapkan. Beliau bersabda kepada mereka, “Kerjakanlah shalat isya ini di waktu malam yang sangat gelap (akhir malam) karena sungguh kalian telah diberi keutamaan dengan shalat ini di atas seluruh umat. Dan tidak ada satu umat sebelum kalian yang mengerjakannya.” (HR. Abu Dawud no. 421 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Penjelasan ringkas:
Hukum asal dari shalat-shalat lima waktu adalah dikerjakan di awal waktunya masing-masing. Kecuali shalat isya, karena adany dalil-dalil yang tegas menunjukkan disunnahkannya untuk mengerjakan shalat isya di akhir malam. Walaupun demikian, Rasulullah tidaklah mengharuskan umatnya untuk terus mengerjakannya di akhir waktu disebabkan adanya kesulitan. Dalam pelaksanaan shalat isya berjamaah di masjid, beliau melihat jumlah orang-orang yang berkumpul di masjid untuk shalat, sedikit atau banyak. Sehingga terkadang beliau menyegerakan shalat isya dan terkadang mengakhirkannya. Bila beliau melihat para makmum telah berkumpul di awal waktu maka beliau mengerjakannya dengan segera. Namun bila belum berkumpul beliau pun mengakhirkannya.
Hal ini ditunjukkan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia mengabarkan:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الظُّهْرَ بِالْهَاجِرَةِ وَالْعَصْرَ وَالشَّمْسُ نَقِيَّةٌ وَالْمَغْرِبَ إِذَا وَجَبَتْ وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا يُؤَخِّرُهَا وَأَحْيَانًا يُعَجِّلُ، كَانَ إِذَا رَآهُمْ قَدِ اجْتَمَعُوْا عَجَّلَ وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَأُوْا أَخَّرَ …
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat zhuhur di waktu yang sangat panas di tengah hari, shalat ashar dalam keadaan matahari masih putih bersih, shalat maghrib saat matahari telah tenggelam dan shalat isya terkadang beliau mengakhirkannya, terkadang pula menyegerakannya. Apabila beliau melihat mereka (para sahabatnya/jamaah isya) telah berkumpul (di masjid) beliau pun menyegerakan pelaksanaan shalat isya, namun bila beliau melihat mereka terlambat berkumpulnya, beliau pun mengakhirkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 565 dan Muslim no. 1458)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata, “Yang afdhal/utama bagi para wanita yang shalat di rumah-rumah mereka adalah mengakhirkan pelaksanaan shalat isya, jika memang hal itu mudah dilakukan.” (Asy-Syarhul Mumti’ 2/116)
Bila ada yang bertanya, “Manakah yang lebih utama, mengakhirkan shalat isya sendirian atau melaksanakannya secara berjamaah walaupun di awal waktu?” Jawabannya, kata Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu, adalah shalat bersama jamaah lebih utama. Karena hukum berjamaah ini wajib (bagi lelaki), sementara mengakhirkan shalat isya hukumnya mustahab. Jadi tidak mungkin mengutamakan yang mustahab daripada yang wajib. (Asy-Syarhul Mumti’ 2/116, 117)
Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:
أَعْتَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اللَّيْلِ وَحَتَّى نَامَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى فَقَالَ إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي
“Suatu malam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat ‘atamah (isya`) sampai berlalu sebagian besar malam dan penghuni masjid pun ketiduran, setelah itu beliau datang dan shalat. Beliau bersabda: “Sungguh ini adalah waktu shalat isya’ yang tepat, sekiranya aku tidak memberatkan umatku.” (HR. Muslim no. 638)
Dari Jabir bin Samurah -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤَخِّرُ صَلَاةَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mengakhirkan shalat isya.” (HR. Muslim no. 643)
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
أَعْتَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعِشَاءِ حَتَّى نَادَاهُ عُمَرُ: الصَّلاَةُ، نَامَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ. فَخَرَجَ فَقَالَ: مَا يَنْتَظِرُهَا أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ غَيْرُكُمْ. قَالَ: وَلاَ يُصَلَّى يَوْمَئِذٍ إِلاَّ بِالْمَدِيْنَةِ، وَكاَنُوْا يُصَلُّوْنَ فِيْمَا بَيْنَ أَنْ يَغِيْبَ الشَّفَقُ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ
“Rasulullah mengakhirkan shalat isya hingga malam sangat gelap sampai akhirnya Umar menyeru beliau, “Shalat. Para wanita dan anak-anak telah tertidur.” Beliau akhirnya keluar seraya bersabda, “Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menanti shalat ini kecuali kalian.” Rawi berkata, “Tidak dikerjakan shalat isya dengan cara berjamaah pada waktu itu kecuali di Madinah. Nabi beserta para sahabatnya menunaikan shalat isya tersebut pada waktu antara tenggelamnya syafaq sampai sepertiga malam yang awal.” (HR. Al-Bukhari no. 569 dan Muslim no. 1441)
Dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu dia berkata:
أَبْقَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلاَةِ الْعَتَمَةِ، فَأَخَّرَ حَتَّى ظَنَّ الظَّانُّ أَنَّهُ لَيْسَ بِخَارِجٍ، وَالْقَائِلُ مِنَّا يَقُوْلُ: صَلَّى. فَإِنَّا لَكَذَلِكَ حَتَّى خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوْا لَهُ كَماَ قَالُوْا. فَقَالَ لَهُمْ: أَعْتِمُوْا بِهَذِهِ الصَّلاَةِ، فَإِنَّكُمْ قَدْ فَضَّلْتُمْ بِهَا عَلَى سَائِرِ الْأُمَمِ وَلَمْ تُصَلِّهَا أُمَّةٌ قَبْلَكُمْ
“Kami menanti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat isya (‘atamah), ternyata beliau mengakhirkannya hingga seseorang menyangka beliau tidak akan keluar (dari rumahnya). Seseorang di antara kami berkata, “Beliau telah shalat.” Maka kami terus dalam keadaan demikian hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, lalu para sahabat pun menyampaikan kepada beliau apa yang mereka ucapkan. Beliau bersabda kepada mereka, “Kerjakanlah shalat isya ini di waktu malam yang sangat gelap (akhir malam) karena sungguh kalian telah diberi keutamaan dengan shalat ini di atas seluruh umat. Dan tidak ada satu umat sebelum kalian yang mengerjakannya.” (HR. Abu Dawud no. 421 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Penjelasan ringkas:
Hukum asal dari shalat-shalat lima waktu adalah dikerjakan di awal waktunya masing-masing. Kecuali shalat isya, karena adany dalil-dalil yang tegas menunjukkan disunnahkannya untuk mengerjakan shalat isya di akhir malam. Walaupun demikian, Rasulullah tidaklah mengharuskan umatnya untuk terus mengerjakannya di akhir waktu disebabkan adanya kesulitan. Dalam pelaksanaan shalat isya berjamaah di masjid, beliau melihat jumlah orang-orang yang berkumpul di masjid untuk shalat, sedikit atau banyak. Sehingga terkadang beliau menyegerakan shalat isya dan terkadang mengakhirkannya. Bila beliau melihat para makmum telah berkumpul di awal waktu maka beliau mengerjakannya dengan segera. Namun bila belum berkumpul beliau pun mengakhirkannya.
Hal ini ditunjukkan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia mengabarkan:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الظُّهْرَ بِالْهَاجِرَةِ وَالْعَصْرَ وَالشَّمْسُ نَقِيَّةٌ وَالْمَغْرِبَ إِذَا وَجَبَتْ وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا يُؤَخِّرُهَا وَأَحْيَانًا يُعَجِّلُ، كَانَ إِذَا رَآهُمْ قَدِ اجْتَمَعُوْا عَجَّلَ وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَأُوْا أَخَّرَ …
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat zhuhur di waktu yang sangat panas di tengah hari, shalat ashar dalam keadaan matahari masih putih bersih, shalat maghrib saat matahari telah tenggelam dan shalat isya terkadang beliau mengakhirkannya, terkadang pula menyegerakannya. Apabila beliau melihat mereka (para sahabatnya/jamaah isya) telah berkumpul (di masjid) beliau pun menyegerakan pelaksanaan shalat isya, namun bila beliau melihat mereka terlambat berkumpulnya, beliau pun mengakhirkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 565 dan Muslim no. 1458)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata, “Yang afdhal/utama bagi para wanita yang shalat di rumah-rumah mereka adalah mengakhirkan pelaksanaan shalat isya, jika memang hal itu mudah dilakukan.” (Asy-Syarhul Mumti’ 2/116)
Bila ada yang bertanya, “Manakah yang lebih utama, mengakhirkan shalat isya sendirian atau melaksanakannya secara berjamaah walaupun di awal waktu?” Jawabannya, kata Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu, adalah shalat bersama jamaah lebih utama. Karena hukum berjamaah ini wajib (bagi lelaki), sementara mengakhirkan shalat isya hukumnya mustahab. Jadi tidak mungkin mengutamakan yang mustahab daripada yang wajib. (Asy-Syarhul Mumti’ 2/116, 117)
ADA APA DENGAN TEROMPET ?
ADA APA DENGAN TEROMPET ?
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dari Abu ‘Umair bin Anas radhiyallahu anhu
dari bibinya yang termasuk shahabiyah
anshor, “Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada
beberapa orang yang memberikan usulan.
Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah
bendera ketika waktu shalat tiba. Jika
orang-orang melihat ada bendera yang
berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat. Namun Nabi
tidak menyetujuinya. Orang kedua
mengusulkan agar memakai teropet.
Nabipun tidak setuju, beliau bersabda,
‘Membunyikan terompet adalah perilaku
orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi
berkomentar, ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’
Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin
Zaid bin Abdi Rabbihi pulang dalam kondisi
memikirkan agar yang dipikirkan Nabi.
Dalam tidurnya, beliau diajari cara beradzan.”
«««(HR. Abu Dawud, Lihat; Shahih Sunan
Abi Daud)»»»
-------
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,
berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai terompet Yahudi yang
ditiup dengan mulut dan lonceng Nashrani
yang dipukul dengan tangan. Beliau
beralasan karena meniup terompet
merupakan perbuatan orang Yahudi dan
membunyikan lonceng itu merupakan perbuatan orang Nashrani. Karena
penyebutan sifat setelah hukum
menunjukkan alasan (pelarangan)
tersebut. Hal ini menunjukkan larangan
beliau dari seluruh perkara yang
merupakan kebiasaan Yahudi dan Nashrani.”
«««(Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim 1/356,
Dar A’Alamil Kutub, Beirut, cet. VII, 1419
H, tahqiq: Nashir Abdul Karim Al-‘Aql,
Asy-Syamilah)»»»
Friday, 28 December 2012
Jauhilah Perbuatan Maksiat
Jauhilah Perbuatan Maksiat
Apa yang menyebabkan Adam dan Hawwa dikeluarkan dari Al Jannah (surga)?
Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua bermaksiat kepada Allah
subhanahu wata’ala. Mereka melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala
karena mendekati sebuah pohon di Al Jannah, mereka terbujuk oleh rayuan
iblis yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu
wata’ala.
Wahai para pemuda, senantiasa iblis, syaitan, dan
bala tentaranya berupaya untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar
mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, mereka mengajak umat
manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka. Sebagaimana yang
Allah subhanahu wata’ala jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia
musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu mengajak golongannya
supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Setiap amalan keburukan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun kecil
pasti akan dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah subhanahu wata’ala.
Pasti engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau
lakukan itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah: 8)
Syaitan juga menghendaki dengan kemaksiatan ini, umat manusia menjadi
terpecah belah dan saling bermusuhan. Jangan dikira bahwa ketika engkau
bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu
wata’ala, itu merupakan kesepakatan di antara kalian. Sekali-kali tidak,
justru cepat atau lambat, teman yang engkau cintai menjadi musuh yang
paling engkau benci. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ
وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ
اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ
“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan
kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan
menghalangi kamu dari mengingat Allah dan solat, maka berhentilah kamu
(dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah: 91)
Demikianlah
syaitan menjadikan perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sebagai
jalan untuk memecah belah dan menimbulkan permusuhan di antara mereka.
.......hazim faiz said....
Batasan Gambar Makluk bernyawa
Batasan Gambar Makluk bernyawa
- - -
Yang dimaksudkan dengan gambar mahluk bernyawa itu adalah yang cukup
sifatnya pada wajah di kepalanya seperti mata, hidung, kening, mulut
dll. Hal ini telah dijelaskan oleh ulama.
Imam Al Hadifz Ibnu Hajar Al Atsqalani :
“Kata al Khaththabi : dan gambar yang menghalangi masuknya malaikat ke
dalam rumah adalah gambar yang padanya terpenuhi hal-hal yang haram,
yakni gambar-gambar makhluk yang bernyawa, yang tidak terpotong
kepalanya (menjelaskan sifat pada wajah/kepala seperti mata, telinga,
kening, hidung, dll) atau tidak dihinakan..."
Menyebarkan aib seseorang yang masih layak dinasehati secara tertutup (adalah satu bentuk fanatisme terselubung)
Menyebarkan aib seseorang yang masih layak dinasehati secara tertutup (adalah satu bentuk fanatisme terselubung)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam hafizhahuLlahu ta’ala
Seorang yang berilmu bisa jadi mengetahui kesalahan saudaranya yang
juga berilmu, maka tatkala dia bersegera mengingkari dan menjatuhkan
saudaranya, padahal dia mampu menasihatinya dengan baik, dan juga dia
mengetahui bahwa saudaranya yang bersalah akan menerima nasihat, maka
ini termasuk menyebarkan aib yang tidak bisa diterima.
Cara
yang ditempuhnya berupa celaan (jarh) dan penyebaran aib saudaranya
adalah bentuk fanatisme terselubung (ta’ashshub khafi) terhadap diri
sendiri dan hawa nafsu.
Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam kitabnya “Ath-Thuruq Al-Hukmiyah” (hal. 58):
“Dan diantara bentuk kecerdasan yang mendalam adalah engkau tidak
menyebarkan kesalahan seorang yang ditaati di tengah-tengah manusia,
sehingga engkau malah membawanya semakin terjerumus dalam kesalahan,
maka itu adalah kesalahan kedua. Akan tetapi hendaklah engkau sampaikan
kepadanya dengan penuh kelembutan, sehingga orang lain tidak mengetahui
kesalahannya.”
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam kitabnya “Adab Ath-Tholab” (hal. 81):
“Dan banyak engkau temui dua orang yang adil dari kalangan ahli ilmu
namun berseteru dalam satu permasalahan, keduanya berbeda pendapat dalam
satu pembahasan, maka setiap mereka mulai mencari-cari dalil untuk
menguatkan pendapatnya, sehingga pada akhirnya masing-masing membawa
al-mutaroddiyah (bangkai hewan yang mati karena terjatuh) dan
an-nathihah (bangkai hewan yang mati karena dilukai hewan lainnya)
(yakni mengada-ngada dalam berdalil, pen) padahal setiap mereka tahu
bahwa kebenaran berada pada pihak yang lain dan apa yang dia bawa sama
sekali tidak dapat mengenyangkan dan tidak pula menghilangkan dahaga.
Dan ini adalah bentuk fanatisme (ta’ashshub) yang sangat terselubung,
dimana banyak orang yang adil (lagi berilmu) masih terjatuh padanya
(apalagi yang jahil lagi zalim, pen), terlebih lagi ketika di hadapan
manusia, sulit bagi orang yang menyalahkan (kebenaran yang ada pada
saudaranya) untuk kembali kepada kebenaran kecuali dalam kondisi yang
sangat jarang sekali. Dan ini kebanyakan terjadi dalam majelis-majelis
pelajaran dan forum-forum ahli ilmu.”
Aku (Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam hafizhahullah) berkata,
“Apabila tujuan menyebarkan celaan adalah untuk menunjukkan kecemburuan
terhadap agama dan bahwasannya dia tidak sabar atas kesalahan yang dia
ketahui, maka dalam perbuatan itu terdapat bentuk kepercayaan terhadap
diri sendiri.
Adapun jika tujuan menampakkan celaan karena
anggapan bahwa hal itu lebih bermanfaat dalam menasihati dan lebih kuat
pengaruhnya dalam perbaikan maka itu adalah ijtihad yang diterima, akan
tetapi yang menjadi ukuran apakah ijtihadnya benar atau tidak adalah
pada akibatnya.
Jadi, apabila nampak akibat penyebaran aib
tersebut membuka pintu perselisihan dan pertikaian yang bisa jadi
semakin memanas, maka wajib atas pelakunya untuk bersegera melakukan
perbaikan apa yang telah dirusaknya, sehingga dia menjadi seorang
mujtahid yang mendapat satu pahala dalam penyebaran celaan tersebut, dan
mendapat dua pahala ketika dia kembali melakukan perbaikan. Adapun jika
telah lewat masa yang panjang, dalam keadaan dia tidak peduli dengan
perpecahan yang telah dibuatnya, maka ini hanyalah sekedar memenangkan
hawa nafsu belaka. Semoga Allah ta’ala melindungi kita dari keburukan
jiwa-jiwa kita.
Maka ingatlah Allah, ingatlah Allah dalam
memperbaiki kondisi untuk menjaga ukhuwah, saling tolong menolong,
saling menguatkan dan saling menjaga persatuan, kasih sayang dan
kecintaan.”
[Al-Ibanah ‘an Kaifiati At-Ta’amul ma’al Khilaaf
bayna Ahlis Sunnah wal Jama’ah (Penjelasan tentang Cara Menyikapi
Perselisihan antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah), hal. 266-267]
Berakhlak dengan akhlak yang mulia adalah termasuk dari pegangan aqidah ahlus sunnah.
Berakhlak dengan akhlak yang mulia adalah termasuk dari pegangan aqidah ahlus sunnah..
Syaikhul Islam Ibnu Thaimiyyah berkata:
وَيَدْعُونَ إلَى:مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ.وَمَحَاسِنِ
الْأَعْمَالِ.وَيَعْتَقِدُونَ: مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ
خُلُقًا» .وَيَنْدُبُونَ إِلَى:أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَك.وَتُعْطِيَ مَنْ
حَرَمَك.وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَك وَيَأْمُرُونَ: بِبِرِّ
الْوَالِدَيْنِ. وَصِلَةِ الْأَرْحَامِ. وَحُسْنِ الْجِوَارِ.
وَالْإِحْسَانِ إِلَى: الْيَتَامَى، وَالْمَسَاكِينِ، وَابْنِ السَّبِيلِ.
وَالرِّفْقِ بِالْمَمْلُوكِ. وَيَنْهَوْنَ عَنْ: الْفَخْرِ،
وَالْخُيَلَاءِ. وَالْبَغْيِ، وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَى الْخَلْقِ بِحَقِّ
أَوْ بِغَيْرِ حَقٍّ. وَيَأْمُرُونَ: بِمَعَالِي الْأَخْلَاقِ وَيَنْهَوْنَ
عَنْ: سِفْسَافِهَا
“Dan mereka
(al-firqoh an-najiah ahlus sunnah wal jama’ah) menyeru kepada
(penerapan) akhlak yang mulia dan amal-amal yang baik. Mereka meyakini
kandungan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yang paling sempuna
imannya dari kaum mukminin adalah yang paling baik akhlaknya diantara
mereka“. Dan mereka mengajakmu untuk menyambung silaturahmi dengan orang
yang memutuskan silaturahmi denganmu, dan agar engkau memberi kepada
orang yang tidak memberi kepadamu, engkau memaafkan orang yang berbuat
zhalim kepadamu, dan ahlus sunnah wal jama’ah memerintahkan untuk
berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, bertetangga
dengan baik, berbuat baik kepada anak-anak yatim, fakir miskin, dan para
musafir, serta bersikap lembut kepada para budak. Mereka (Ahlus sunnah
wal jama’ah) melarang sikap sombong dan keangkuhan, serta merlarang
perbuatan dzolim dan permusuhan terhadap orang lain baik dengan sebab
ataupun tanpa sebab yang benar. Mereka memerintahkan untuk berakhlak
yang tinggi (mulia) dan melarang dari akhlaq yang rendah dan buruk”.
[lihat Matan al-'Aqiidah al-Waashithiyyah]
apa itu isbal?
Bismillah.
Kaum yg tetap ingkar dgn larangan isbal (melabuhkan pakaian melebihi
paras buku lali / mata kaki), maka ketahuilah mereka adalah kaum yg
telah diancam oleh Allah yakni dikecualikan mereka dr golongan2 yg
dicintai oleh Allah bahkan lebih buruk dari itu, yakni tdk akan diajak
bicara, tdk dipandang serta tdk disucikan dosa mereka oleh Allah.
Wa'iyadzubillah..
- - -
Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu’anhu beliau berkata:
“Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendatangi kamar
Sufyan bin Abi Sahl, lalu beliau berkata: ‘Wahai Sufyan, janganlah
engkau isbal. Kerana Allah tidak mencintai orang-orang yang musbil’”
(HR. Ibnu Maajah no.2892, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Maajah)
- - -
“Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada
hari Kiamat, tidak dipandang, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk
mereka bertiga seksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal, orang
yang mengungkit-ungkit sedekah dan orang yang melariskan barang
dagangannya dengan sumpah palsu”.
(HR. Muslim, 106)
Via akhina @Abu Muhammad al badr
Tiga Wasiat Penting Rasulullah
Tiga Wasiat Penting Rasulullah
عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ
مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin Jabal
radhiallahuanhuma dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam beliau
bersabda : “Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah
keburukan dengan kebaikan niscaya menghapuskannya dan pergauilah manusia
dengan akhlak yang baik “ [HR: Ahmad V/153, 158, 177, at-Tirmidzi no.
1987]
Penjelasan hadits:
Hadits yang mulia ini berisi wasiat berharga dari Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam kepada kita semua dalam mengarungi kehidupan
dunia ini. Wasiat ini berhubungan dengan hubungan kita kepada Allah,
diri sendiri dan orang lain. Setiap kita mesti akan berhubungan dengan
sang pencipta kita dan ini dapat diwujudkan dengan benar hanya dengan
takwa kepadaNya disetiap saat. Juga setiap kita akan berhubungan dengan
diri sendiri sebagai insan yang tidak luput dari kesalahan dan dosa,
maka caranya adalah dengan mengiringi kesalahan dan dosa dengan taubat
yang merupakan amalan soleh dan kebajikan yang dapat menghapus dosa
kesalahan tersebut. Sehingga bila seorang berbuat dosa maka segera
mengiringinya dengan taubat dan menambah amal kebaikan yang dapat
menghapusnya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan
laksanakanlah solat pada kedua hujung siang (pagi dan petang) dan pada
bahagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus
kesalahan-kesalahan” (Qs Hûd/11: 114).
Demikian indahnya
wasiat ini, sesiapa yang ingin selamat didunia akhirat maka hendaklah
mengamalkan tiga wasiat Rasululah Shallallahu’alaihi Wasallam ini.
Semoga kita dapat melakukankannya!!!
-hazimfaizsaid-
Bersemangatlah Menuntut Ilmu Agama
[Bersemangatlah Menuntut Ilmu Agama]
Menuntut ilmu agama termasuk amal yang paling mulia, dan ia merupakan tanda dari kebaikan.
Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Orang yang
dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, akan dimudahkan untuk
memahami ilmu agama” (HR. Bukhari-Muslim).
Hal ini dikaranakan dengan menuntut ilmu agama seseorang akan
mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat baginya untuk melakukan amal
shalih.
Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya, “Dan
Allahlah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan hudaa dan dinul haq” [At
Taubah: 33].
Dan hudaa di sini adalah ilmu yang bermanfaat,
dan maksud dinul haq di sini adalah amal shalih. Selain itu, Allah
Ta’ala pernah memerintahkan Nabi-Nya Shalallahu’alaihi Wasallam untuk
meminta tambahan ilmu,
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah (Wahai Muhammad), Ya Rabb, tambahkanlah ilmuku” [Thaha: 114].
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Ayat ini adalah dalil yang tegas
tentang keutamaan ilmu. Karena Allah Ta’ala tidak pernah memerintahkan
Nabinya Shalallahu’alaihi Wasallam untuk meminta tambahan terhadap
sesuatu, kecuali ilmu” [Fathul Baari, 187/1].
Dan Rasulullah
Shalallahu’alaihi Wasallam memberi nama majlis ilmu agama dengan
‘Riyadhul Jannah’ (Taman Surga). Beliau juga memberi julukan kepada para
ulama sebagai ‘Warotsatul Anbiyaa’ (Pewaris Para Nabi). Wallahu a'lam.
-hazim faiz said- — at Sana'a ,Yaman.
Semangat di atas ikatan keimanan di antara kaum muslimin
[Semangat di atas ikatan keimanan di antara kaum muslimin]
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka
perbaikilah (damaikanlah) hubungan antara kedua saudaramu (yang
berselisih), dan bertaqwalah kepada Allah agar kalian diberi rahmat“.
(QS. Al-Hujurat: 10)
Dari sini bererti memutus hubungan (di antara kaum muslimin) adalah dosa besar di antara dosa-dosa besar yang ada.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, “Dibukakan pintu-pintu surga pada hari isnin dan
khamis, maka diampuni setiap hamba yang muslim selama tidak berbuat
syirik kepada Allah, kecuali seseorang yang terdapat kebencian pada
saudaranya, lalu dikatakan: Perhatikanlah oleh kalian sampai mereka
berdua berdamai. Perhatikanlah oleh kalian sampai mereka berdua
berdamai.” (HR. Muslim).
Sesungguhnya seorang muslim yang
muwahhid (bertauhid) lagi jujur ketauhidannya, tidak akan membenci dan
hasad (dengki) kepada saudaranya. Jika saudaranya merasakan sakit, maka
ia pun merasakan hal yang sama. Bahkan ia pun akan merasakan bahagia
jika saudaranya bahagia. Ia akan berusaha menjaga dirinya dari sekecil
mungkin berbuat salah kepada saudaranya.
(hazim faiz said) — at Sana'a ,Yaman.
Roh & Mati
Roh & Mati
Bismillah. kita baru sahaja mengalami mati kecil iaitu tidur, mati
kecil ini setiap hari kita akan alami sementara menunggu mati yg besar
iaitu diwaktu roh keluar dari badan kita dan tidak akan kembali lagi.
Perlu kita ketahui bahawa, semasa kita tidur, Roh kita boleh bertemu
& saling kenal mengenali dengan Roh orang yang sudah meninggal
dunia. Tetapi bila sampai waktunya (bangun dari tidur), Roh kita yang
keluar semasa tidur akan Allah pulangkan kembali ke dalam jasad kita
tetapi Roh mereka yang sudah meninggal dunia juga ingin kembali ke
jasadnya tetapi Allah menghalangnya.
Allah berfirman, "Allah (Yang Menguasai Segala-galanya), Dia mengambil
dan memisahkan satu-satu Roh dari badannya, Roh orang yang sampai
ajalnya semasa matinya, dan roh orang yang tidak mati; dalam masa
tidurnya; kemudian Dia (Allah) menahan Roh orang yang Dia tetapkan
matinya dan melelaskan balik Roh yang lain (ke badannya) sehingga sampai
ajalnya yang ditentukan." Surah Az-Zumar: Ayat 42.
Abu
Abdullah bin Mandah menyebutkan, dari Ibnu Abbas r.a dia berkata
mengenai ayat ini; "sampai berita kepadaku bahawa Roh orang-orang yang
hidup dan yang sudah meninggal dunia boleh saling bertemu ketika tidur,
lalu mereka saling bertanya. Kemudia Allah menahan Roh orang yang sudah
meninggal dunia dan mengembalikan Roh orang-orang masih hidup
kejasadnya."
Ibnu Abu Hatim berkata di dalam tafsirya, dari
As-Suda tentang firman Allah; "Dan Roh orang yang tidak mati: dalam masa
tidurnya" bahawa Allah memegang Roh di dalam tidurnya itu, lalu Roh
orang yang hidup itu bertemu dengan Roh orang sudah meninggal dunia,
lalu mereka saling mengingat dan saling mengenal. Kemudian Roh orang
yang hidup kembali ke jasadnya di dunia hingga sampai ajalnya, dan Roh
orang yang sudah meninggal dunia ingin kembali jasadnya, tetapi di
tahan."
- Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dlm kitabnya "Mengenal Hakikat Roh".
KHUTBAH IBLIS:
KHUTBAH IBLIS:
"Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan:
"Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar,
dan akupun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya.
sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan
(sekadar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab
itu janganlah kalian mencerca aku akan tetapi cercalah diri kalian
sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun
sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan
perbuatan kalian yang mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu".
Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih".Dan
dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal soleh ke dalam
syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya
dengan seizin Tuhan mereka" (QS Ibrahim : 22-23)
[ KENALI RABBMU(TUHANMU) MELALUI KALAMNYA DAN SABDA RASULNYA S.A.W SERTA PARA PENGIKUTNYA ]
[ KENALI RABBMU(TUHANMU) MELALUI KALAMNYA DAN SABDA RASULNYA S.A.W SERTA PARA PENGIKUTNYA ]
Firman Allah Ta`ala:
إن ربّكم الله الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش. يدبّر الأمر ما من شفيع غلا من بعد إذنه ذالكم الله ربكم فاعبدوه أفلا تذكّرون
Maksudnya: " Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,kemudian Dia beristiwa`(bersemayam)di atas `Arasy mengatur segala urusan,tiada seorang pun yang akan memberi syafaat(pertolongan)kecuali sesudah mendapat izinNya,(Zat)yang demikian itulah Allah,Tuhan kamu,maka sembahlah Dia.Maka apakah kamu tidak mengambil pengajaran? [ Yunus 10:3 ]
Sabda Rasulullah s.a.w:
" لما خلق الله الخلق كتب في كتاب فهو عنده فوق العرش إن رحمتي تغلب غضبي "
" Apabila Allah telah mencipta makhluk,Dia telah menulis di Kitab dan ianya berada disisiNya diatas `Arasy " Sesungguhnya rahmatKu mengatasi kemurkaanKu".
[ Muttafaqun`alaihi ],sabda baginda lagi:
" ألا تأمنوني وأنا أمين من في السماء يأتيني خبر السماء مساء وصباحا "
" Apakah kamu tidak mempercayaiku? sedangkan aku ialah kepercayaan yang berada di langit,datang kepadaku khabar langit petang dan pagi" [ Muttafaqun`alaihi ]
Kata Abu Bakr As-Siddiq r.a:
" من كان يعبد محمدا فإن محمدا قد مات ومن كان يعبد الله فإن الله في السماء حي لا يموت "
" Sesiapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad telah mati! dan sesiapa yang menyembah Allah,sesungguhya Allah yang di langit Maha Hidup dan tidak mati!!" [ HR Al-Bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir no:623 ]
Kata `Adi bin `Umairah radiallahu`anhu ketika mengisahkan kisah keluarnya beliau berhijrah kepada Nabi s.a.w dan pengislamannya:
" فإذا هو ومن معه يسجدون على وجوههم ويزعمون أن إلههم في السماء فأسلمت وتبعته "
" Aku mendapati beliau(Nabi) dan orang-orang yang bersamanya sujud menundukkan wajah-wajah mereka dan mereka berkata bahawa Tuhan mereka di langit,lalu aku pun masuk islam dan mengikutinya" [ Al-Maghazi Yahya bin Sa`id Al-Umawi,rujuk Ijtimak Juyush hlm 67 ] —
Firman Allah Ta`ala:
إن ربّكم الله الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش. يدبّر الأمر ما من شفيع غلا من بعد إذنه ذالكم الله ربكم فاعبدوه أفلا تذكّرون
Maksudnya: " Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,kemudian Dia beristiwa`(bersemayam)di atas `Arasy mengatur segala urusan,tiada seorang pun yang akan memberi syafaat(pertolongan)kecuali sesudah mendapat izinNya,(Zat)yang demikian itulah Allah,Tuhan kamu,maka sembahlah Dia.Maka apakah kamu tidak mengambil pengajaran? [ Yunus 10:3 ]
Sabda Rasulullah s.a.w:
" لما خلق الله الخلق كتب في كتاب فهو عنده فوق العرش إن رحمتي تغلب غضبي "
" Apabila Allah telah mencipta makhluk,Dia telah menulis di Kitab dan ianya berada disisiNya diatas `Arasy " Sesungguhnya rahmatKu mengatasi kemurkaanKu".
[ Muttafaqun`alaihi ],sabda baginda lagi:
" ألا تأمنوني وأنا أمين من في السماء يأتيني خبر السماء مساء وصباحا "
" Apakah kamu tidak mempercayaiku? sedangkan aku ialah kepercayaan yang berada di langit,datang kepadaku khabar langit petang dan pagi" [ Muttafaqun`alaihi ]
Kata Abu Bakr As-Siddiq r.a:
" من كان يعبد محمدا فإن محمدا قد مات ومن كان يعبد الله فإن الله في السماء حي لا يموت "
" Sesiapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad telah mati! dan sesiapa yang menyembah Allah,sesungguhya Allah yang di langit Maha Hidup dan tidak mati!!" [ HR Al-Bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir no:623 ]
Kata `Adi bin `Umairah radiallahu`anhu ketika mengisahkan kisah keluarnya beliau berhijrah kepada Nabi s.a.w dan pengislamannya:
" فإذا هو ومن معه يسجدون على وجوههم ويزعمون أن إلههم في السماء فأسلمت وتبعته "
" Aku mendapati beliau(Nabi) dan orang-orang yang bersamanya sujud menundukkan wajah-wajah mereka dan mereka berkata bahawa Tuhan mereka di langit,lalu aku pun masuk islam dan mengikutinya" [ Al-Maghazi Yahya bin Sa`id Al-Umawi,rujuk Ijtimak Juyush hlm 67 ] —
Apakah itu Qadianiah (Ahmadiah)?
Apakah itu Qadianiah (Ahmadiah)?
Firqah Batiniah diasaskan oleh Mirza Ghulam Ahmad yg mendakwa dirinya adalah; Nabi, diberi Wahyu, lebih afdal dri segala Nabi-nabi, dan mendakwa mendapat Kitab baharu yg menggantikan al-Quran diberi nama: al-Kitab al-Mubin.
ALLAH ta'ala telah memusnahkan musuhNya, Mirza ini dgn penyakit Kolera dan dia mati dlm Jamban. na'uzubillah min al-Jahli wa al-Dolal.
kt Malaysia sudah difatwakan sbgai kafir dan murtad. sudah dibanteras namun masih ada serpihan2 kecil yg kini kembali aktif di "PERLIS DARUL SUNNAH"..
Firqah Batiniah diasaskan oleh Mirza Ghulam Ahmad yg mendakwa dirinya adalah; Nabi, diberi Wahyu, lebih afdal dri segala Nabi-nabi, dan mendakwa mendapat Kitab baharu yg menggantikan al-Quran diberi nama: al-Kitab al-Mubin.
ALLAH ta'ala telah memusnahkan musuhNya, Mirza ini dgn penyakit Kolera dan dia mati dlm Jamban. na'uzubillah min al-Jahli wa al-Dolal.
kt Malaysia sudah difatwakan sbgai kafir dan murtad. sudah dibanteras namun masih ada serpihan2 kecil yg kini kembali aktif di "PERLIS DARUL SUNNAH"..
Syari'at/Syara'
Syari'at/Syara' itu ada 3 jenis:
1- Syara' Munazzal (Syariat yg diturunkan dri ALLAH ta'ala)
2- Syara' Mubaddal (Syariat yg direka cipta oleh manusia kmudian disandrkan kpd ALLAH ta'ala)
3- Syara' Muawwal (Hukum Hakam Syariat yg terhasil dri ijtihad para Ulama')
yg pertama WAJIB ikut, yg ke-2 HARAM & KUFUR, yg ke-3 hendklah diukur dgn dalilnya, mana yg sahih diambil, mana yg x Sahih ditolak.
[Mutiara Faedah dri Syaikhul Islam Ibn Taimiah al-Hafid rahimahullah].
1- Syara' Munazzal (Syariat yg diturunkan dri ALLAH ta'ala)
2- Syara' Mubaddal (Syariat yg direka cipta oleh manusia kmudian disandrkan kpd ALLAH ta'ala)
3- Syara' Muawwal (Hukum Hakam Syariat yg terhasil dri ijtihad para Ulama')
yg pertama WAJIB ikut, yg ke-2 HARAM & KUFUR, yg ke-3 hendklah diukur dgn dalilnya, mana yg sahih diambil, mana yg x Sahih ditolak.
[Mutiara Faedah dri Syaikhul Islam Ibn Taimiah al-Hafid rahimahullah].
Subscribe to:
Posts (Atom)