Thursday, 29 November 2012

kisah orang menipu dan khianat

: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَذَكَرَ الْغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ ثُمَّ قَالَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ يَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْق

ِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ فَيَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ يَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ نَفْسٌ لَهَا صِيَاحٌ فَيَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ تَخْفِقُ فَيَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ فَيَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ

Hadis Abu Hurairah r.a katanya:
Pada suatu hari Rasulullah s.a.w berada bersama kami, baginda menceritakan tentang orang yang suka menipu dan khianat dengan begitu serius. Kemudian baginda bersabda: Pada Hari Kiamat nanti, aku akan bertemu dengan salah seorang dari kamu datang dengan memikul seekor unta yang sedang melenguh di atas tengkuknya dan berkata: Wahai Rasulullah! Tolonglah aku. Lalu aku katakan kepadanya: Aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi untukmu, semuanya telah aku sampaikan kepadamu. Pada Hari Kiamat nanti, aku juga akan bertemu dengan salah seorang dari kamu datang dengan memikul seekor kuda yang sedang merengek di atas tengkuknya. Dia berkata: Wahai Rasulullah! Tolonglah aku. Lalu aku katakan kepadanya: Aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi untukmu, semuanya sudah aku sampaikan kepadamu. Seterusnya pada Hari Kiamat nanti, aku akan bertemu dengan salah seorang dari kamu datang dengan memikul seekor kambing yang sedang mengembek di atas tengkuknya. Dia berkata: Wahai Rasulullah! Tolonglah aku. Maka aku katakan kepadanya: Aku sudah tidak mempunyai apa-apa untukmu, semuanya sudah aku sampaikan kepadamu. Begitu juga pada Hari Kiamat nanti, aku akan bertemu dengan salah seorang dari kamu datang dengan memikul seorang manusia yang sedang menjerit di atas tengkuknya. Dia berkata: Wahai Rasulullah! Tolonglah aku. Lalu aku katakan kepadanya: Aku sudah tidak mempunyai apa-apa untukmu, semuanya sudah aku sampaikan kepadamu. Pada Hari Kiamat nanti, aku juga akan bertemu dengan salah seorang dari kamu datang dengan membawa secebis pakaian yang compang-camping di atas tengkuknya dan dia berkata: Wahai Rasulullah! Tolonglah aku. Maka aku katakan kepadanya: Aku sudah tidak mempunyai apa-apa untukmu, semuanya sudah aku sampaikan kepadamu. Begitu juga pada Hari Kiamat nanti, aku akan bertemu dengan salah seorang dari kamu datang dengan memikul sejumlah harta terdiri dari emas dan perak di atas tengkuknya dan berkata: Wahai Rasulullah! Tolonglah aku. Maka aku katakan kepadanya: Aku sudah tidak mempunyai apa-apa untukmu, semuanya telah aku sampaikan kepadamu.

HADIS : RIWAYAT MUSLIM

Janganlah berteman dengan mereka ini (ahli bid’ah)

Ibnul Jauzy berkata :

“Allah, Allah. Janganlah berteman dengan mereka ini (ahli bid’ah). Dan wajib kamu mencegah anak-anak kecil bergaul dengan mereka agar jangan terpatri sesuatu (perkara bid’ah) dalam hati mereka dan jadikan mereka sibuk (mempelajari) hadits- hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam agar watak mereka terbentuk di atasnya.”

(Adabus Syari’ah Ibnu Muflih 3/577-578)

Hukum orang yang berwala'

Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata:

“ Hukum orang yang berwala` kerana suatu jama’ah dan memusuhi yang lain, maka sungguh dia itu adalah mubtadi’ yang sesat.”

(“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 28/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

KEWAJIBAN BERILMU SEBELUM BERKATA ATAU BERAMAL

KEWAJIBAN BERILMU SEBELUM BERKATA ATAU BERAMAL
Oleh: Al-Ustadz Abu Amr Ahmad Alfian
Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman yang ertinya:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ
Maka ketahuilah bahwa Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan memohonlah ampunan untukmu dan orang-orang beriman lelaki dan perempuan (Q.S Muhammad:19).

Ayat tersebut memerintahkan kepada Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wasallam untuk berilmu terlebih dahulu (Maka Ketahuilah/ berilmulah…) sebelum berucap dan beramal iaitu memohon ampunan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Al-Imam alBukhari rahimahullah menuliskan judul bab pada kitab Shahihnya dengan : Bab Ilmu (didahulukan) Sebelum Ucapan dan Beramal.
Umar bin al-Khottob radhiyallaahu ‘anhu berkata :
تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا
“Belajarlah ilmu sebelum menjadi pemimpin” (riwayat Ibnu Abi Syaibah)
Umar bin al-Khottob radhiyallahu ‘anhu juga berkata :
لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ
“
 Janganlah berjualan di pasar kami orang yang belum faham tentang ilmu agama(muamalah)” (riwayat atTirmidzi)
Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu berkata:
الْعِلْمُ إمَامُ الْعَمَلِ وَالْعَمَلُ تَابِعُهُ
“Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikut ilmu” (al-Amru bil Ma’ruf wan nahyu anil munkarkarya Ibnu Taimiyyah halaman 15).
Umar bin Abdil Aziz rahimahullah berkata:
مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِح
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia lebih banyak merosak dibandingkan memperbaiki” (Majmu’ Fataawa Ibn Taimiyyah:2/383).
Ilmu Menyebabkan Amal yang Sedikit Menjadi Barakah
 Abud Darda’ radhiyallaahu ‘anhu berkata :
يا حبذا نوم الأكياس وإفطارهم كيف يعيبون سهر الحمقى وصيامهم ومثقال ذرة من بر صاحب تقوى ويقين أعظم وأفضل وأرجح من أمثال الجبال من عبادة المغترين
Duhai seandainya (kita dapatkan) tidur dan makan minumnya orang berilmu. Bagaimana mampu orang terperdaya dengan terjaganya (dalam sholat) dan puasanya orang yang bodoh. Sungguh kebaikan sebesar biji dzarrah dari orang yang bertaqwa dan yakin (berilmu) lebih agung, lebih utama, dan lebih berat timbangannya dibandingkan amalan sebesar gunung dari orang yang tertipu (orang bodoh)(Hilyatul Awliyaa’ juz 1 halaman 211).
Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalus Syaikh dalam Syarh Tsalaatsatil Ushul menjelaskan makna ucapan Sahabat Nabi Abud Darda’ ini  bahwa tidur serta makan minumnya orang yang berilmu jauh lebih besar keutamaannya dibandingkan puasa dan qiyamul lailnya orang yang bodoh.

Saturday, 24 November 2012

Dzikir-Dzikir Menjelang Tidur


Dzikir-Dzikir Menjelang Tidur

(1). Mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian meniup keduanya lalu membaca surat Al-Ikhlaash, Al-Falaq dan An-Naas. Kemudian mengusap badannya semampunya dengan kedua tangannya, dimulai dari kepalanya, wajahnya dan bagian depan dari badannya. Hal ini dilakukan tiga kali. (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 9/62 dan Muslim 4/1723)

(2). Membaca ayat kursi. Barangsiapa yang membacanya ketika dia merebahkan dirinya di tempat tidurnya maka sesungguhnya akan senantiasa ada baginya dari sisi Allah yang akan menjaganya dan syaithan tidak akan mendekatinya sampai subuh. (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 4/487)

(3). Membaca surat Al-Baqarah:285-286 (dua ayat terakhir). Barangsiapa yang membaca dua ayat ini pada malam hari maka dua ayat ini akan mencukupinya. (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 9/94 dan Muslim 1/554)

(4). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian bangkit dari tempat tidurnya kemudian kembali lagi maka kibasilah (bersihkanlah) tempat tidurnya tersebut dengan ujung kain/sarungnya tiga kali dan sebutlah nama Allah. Karena sesungguhnya dia tidak tahu apa yang menggantinya setelah dia meninggalkannya. Dan apabila dia berbaring (hendak tidur) maka ucapkanlah:

بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

“Dengan nama-Mu, Ya Tuhanku, aku meletakkan lambungku, dan dengan nama-Mu pula aku mengangkatnya. Maka jika Engkau menahan jiwaku (ruhku) maka rahmatilah dia. Dan jika Engkau melepaskannya maka jagalah dia dengan sesuatu yang Engkau jaga dengannya hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR. Al-Bukhariy 11/126 dan Muslim 4/2084)

(5). Membaca:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ خَلَقْتَ نَفْسِيْ وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menciptakan jiwaku (ruhku) dan Engkaulah yang mewafatkannya. Milik Engkaulah mati dan hidupnya. Jika Engkau menghidupkannya maka jagalah dia dan jika Engkau mematikannya maka ampunilah dia. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu keselamatan.” (HR. Muslim 4/2083 dan Ahmad 2/79, dan lafazh hadits ini miliknya)

(6). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ingin tidur maka beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya kemudian membaca:

اللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

“Ya Allah, lindungilah aku dari ‘adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” Dibaca tiga kali. (HR. Abu Dawud 4/311 dan ini lafazhnya, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/143)

(7). Membaca:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

“Dengan nama-Mu, Ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 11/113 dan Muslim 4/2083)

(8). Membaca Subhaanallaah 33x, Alhamdulillaah 33x dan Allaahu Akbar 34x. Barangsiapa yang mengucapkannya ketika merebahkan diri di tempat tidurnya maka hal ini lebih baik baginya daripada seorang pembantu. (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 7/71 dan Muslim 4/2091)

(9). Membaca:

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ، أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْء، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

“Ya Allah, Rabbnya langit yang tujuh dan Rabbnya ‘arsy yang agung. Rabb kami dan Rabbnya segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian dan biji kurma. Yang menurunkan Taurat, Injil dan Al-Qur`an. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu. Engkaulah Yang memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Awwal maka tidak ada sesuatu pun yang sebelum-Mu. Dan Engkaulah Yang Akhir maka tidak ada sesuatu pun yang setelah-Mu. Dan Engkaulah Yang Zhahir (Maha Tinggi) maka tidak ada sesuatu pun yang ada di atas-Mu. Dan Engkaulah Yang Bathin (Maha Dekat) maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. (Ya Tuhanku) lunasilah hutang kami dan cukupilah kami dari kemiskinan.” (HR. Muslim 4/2084)

(10). Membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا، وَكَفَانَا، وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِيَ لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ

“Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberi kami makan, dan yang telah memberi kami minum, yang telah mencukupkan kami dan yang telah melindungi kami. Karena berapa banyak orang yang tidak mempunyai yang mencukupinya dan yang melindunginya.” (HR. Muslim 4/2085)

(11). Membaca:

اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

“Ya Allah, Yang mengetahui perkara ghaib dan yang nampak, Pencipta langit dan bumi, Rabbnya segala sesuatu dan Yang memilikinya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku dan dari kejahatan syaithan dan sekutunya. Dan jangan sampai aku menjerumuskan diriku ke dalam kejelekan atau menimpakannya kepada seorang muslim.” (HR. Abu Dawud 4/317 dan At-Tirmidziy, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/142)

(12). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kamu ingin pergi ke tempat tidur maka berwudhu`lah sebagaimana kamu berwudhu` untuk shalat. Kemudian berbaringlah di sebelah sisimu yang kanan lalu ucapkanlah:

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إٍلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

“Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu dan aku memasrahkan urusanku kepada-Mu. Dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dalam keadaan harap dan cemas hanya kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari (siksa)Mu kecuali hanya kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan (aku beriman) kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.”

Rasulullah menyatakan kepada orang yang mengucapkan do’a ini: “Jika kamu mati maka kamu mati di atas fithrah (Islam).” (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 11/113 dan Muslim 4/2081)

(13). Membaca surat As-Sajdah dan Al-Mulk. (HR. At-Tirmidziy dan An-Nasa`iy, lihat Shahiihul Jaami’ 4/255)

Do’a-do’a menjelang tidur ini jika tidak mampu dibaca semua maka bacalah semampunya.
oleh: Humaira

Jangan berdusta ke atas Nabi..

Jangan berdusta ke atas Nabi..

Sabda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam : “Sesungguhnya berdusta ke atasku (menggunakan namaku) bukanlah seperti berdusta ke atas orang lain (menggunakan nama orang lain). Barangsiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, maka siaplah tempat duduknya dalam neraka” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari 1/439 dan Muslim 1/10. Hadith ini adalah mutawatir – Lihat : Ibn al-Salah, ‘Ulum al-Hadith, ms. 239]

Sabda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam : “Jangan kamu berdusta ke atasku. Barangsiapa yang berdusta ke atasku maka dia masuk neraka” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari 1/52 dan Muslim 1/10]

Sabda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam: “Barangsiapa yang berbohong dengan menggunakan namaku maka dia telah menempah tempat duduknya dalam neraka” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari – no: 1291 dan Muslim – no: 4]

Sabda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam: “Barangsiapa yang menyebutkan sesuatu dariku sedangkan aku tidak pernah menyebutnya, maka dia telah menempah tempat duduknya di dalam neraka” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari – no: 109]

Sabda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam: “Akan ada pada akhir zaman umatku sekumpulan manusia bersifat seperti dajjal dan pembohong yang memberitahu kamu tentang hadith yang kamu tidak pernah mendengarnya dan juga tidak pernah didengari oleh bapa-bapa kamu. Janganlah mereka mendekati kamu dan janganlah kamu mendekati mereka. Janganlah mereka menyesatkan kamu dan menjatuhkan kamu ke dalam fitnah” [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya – no: 15]
 
Abu Fedora.....

berhati-hati ketika menyandarkan kepada Nabi kita..

Mohon berhati-hati ketika menyandarkan kepada Nabi kita..

al-Imam al-Thohawi (w321H):

“Sesiapa yang menyampaikan hadith daripada Rasulullah berdasarkan sangkaan (atau tidak pasti), bererti dia menyampaikan hadith daripada baginda secara tidak benar. Sesiapa yang menyampaikan hadith daripada baginda secara tidak benar bererti dia menyampaikan hadith daripada baginda secara batil. Sesiapa yang menyampaikan hadith daripada baginda secara batil (maka) dia berdusta ke atas baginda sebagaimana seorang pendusta hadith. Mereka termasuk dalam sabdanya Nabi shalallahu-‘alaihi-wasallam “Sesiapa yang berdusta ke atas aku maka dia mengambil tempat duduknya di dalam neraka”. Kami berlindung daripada Allah Ta’ala daripada sedemikian” [Musykil al-Atsar (diteliti oleh Muhammad ’Abd al Salah Syahin; Dar al Kutub al Ilmiah, Beirut, 1995) jilid 1, ms. 123]

Al Qur'aan dan As Sunnah tidak pernah memberi julukan kitab suci kepada Al Qur'aan.

Orang-orang Kristian memanggil kitab rujukan mereka iaitu Bible sebagai Al Kitaab Al Muqaddas iaitu kitab suci.

Al Qur'aan dan As Sunnah tidak pernah memberi julukan kitab suci kepada Al Qur'aan. Hanya pengarang-pengarang moden Islam semenjak 100-200 tahun yang lepas yang mempopularkan istilah ini lantaran terpengaruh dengan gaya terjemahan Bible. Di dalam Al Qur'an maka anda akan mendapati perkataan yang mengiringi Al Qur'an seperti Al Karim, Al 'Azhim, Al Hakim, Majid dan selainnya. Al Qur'an juga dikenali sebagai Al Kitaab, Al Furqaan dan puluhan nama lain yang berasal dari Al Qur'an dan As Sunnah. Menisbahkan sifat suci kepada Al Qur'an adalah tidak salah menurut Ulama namun ini bukan gelaran yg diberi kepada Al Qur'aan dan bukan suatu sifat utama yang dinisbahkan kepada Al Qur'aan. Menggunakan istilah yang Islamiyy dalam menyifatkan perkara-perkara keagamaan adalah paling utama. Allah dan Rasulnya lebih tahu tentang bagaimana menyifatkan Al Qur'aan dan pedoman keduanya lebih utama untuk diikuti dari pedoman kaum sesat dan dimurkai Allah, Kristian dan Yahudi. Jika beginilah halnya dengan kitab yang begitu mulia ini maka apatah lagi dengan perkara-perkara lain.
0leh: imran ahmad

amalan menggerakkan jari ketika tasyahud adalah amalan sunnah

Soalan Fiqh Solat:

Apakah amalan menggerakkan jari ketika tasyahud adalah amalan sunnah? Jika ya, apakah dalil dari sunnah dan jika tidak, apakah hukum kita melakukan pergerakan tersebut ketika solat?
 ...ثم رفع إصبعه فرأيته يحركها يدعو بها

Kemudian baginda mengangkat jarinya dan aku melihat baginda saw menggerakkannya dan berdoa dengannya
Hadis riwayat Ahmad, Nasaie (1192) dan Abu daud. al-Albani menghukum penambahan hadis menggerak-gerakkan jari sebagai hasan..

Friday, 23 November 2012

Menyembunyikan kecacatan barang yang dijual adalah dilarang.

Menyembunyikan kecacatan barang yang dijual adalah dilarang. Penjual tidak boleh menyembunyikan kelemahan yang ada pada sesuatu barang yang ingin dijualnya jika dia mengetahui akan hal tersebut. Di antara hadith yg menunjukkan hal ini:

1.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا، فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ: «مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ؟» قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ، مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي»


Dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah melalui setompok makanan lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya. Tangan beliau lalu menyentuh sesuatu yang basah. Maka Baginda saw bertanya: "Apakah ini wahai pemilik makanan?" Pemiliknya menjawab, "Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Mengapa kamu tidak meletakkannya di bahagian atas makanan agar manusia dapat melihatnya. Barang siapa menipu maka dia bukan dari golongan kami." (Muslim)


2.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلَّا بَيَّنَهُ لَهُ»
(صحيح انظر حديث رقم: 6705 في صحيح الجامع

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain maka janganlah seorang muslim menjual sesuatu kepada saudaranya sedangkan ada cacat padanya melainkan ia menjelaskannya. ” (Ibnu Majah)

Hukum mengucapkan tahniah kepada kaum kafir

HUKUM MENGUCAPKAN TAHNIAH KEPADA KAUM KAFIR (PENJELASAN AL-IMAM IBN AL-QAYYIM AL-JAUZIYYAH)


Kata al-Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziah rahimahullah dalam kitab beliau; Ahkam Ahli al-Zimmah:

فَصْلٌ فِي تَهْنِئَتِهِمْ. بِزَوْجَةٍ أَوْ وَلَدٍ أَوْ قُدُومِ غَائِبٍ أَوْ عَافِيَةٍ أَوْ سَلَامَةٍ مِنْ مَكْرُوهٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ، وَقَدِ اخْتَلَفَتِ الرِّوَايَةُ فِي ذَلِكَ عَنْ أَحْمَدَ فَأَبَاحَهَا مَرَّةً وَمَنَعَهَا أُخْرَى، وَالْكَلَامُ فِيهَا كَالْكَلَامِ فِي التَّعْزِيَةِ وَالْعِيَادَةِ وَلَا فَرْقَ بَيْنَهُمَا، وَلَكِنْ لِيَحْذَرِ الْوُقُوعَ فِيمَا يَقَعُ فِيهِ الْجُهَّالُ مِنَ الْأَلْفَاظِ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى رِضَاهُ بِدِينِهِ، كَمَا يَقُولُ أَحَدُهُمْ: مَتَّعَكَ اللَّهُ بِدِينِكَ أَوْ نَيَّحَكَ فِيهِ، أَوْ يَقُولُ لَهُ: أَعَزَّكَ اللَّهُ أَوْ أَكْرَمَكَ إِلَّا أَنْ يَقُولَ: أَكْرَمَكَ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ وَأَعَزَّكَ بِهِ وَنَحْوَ ذَلِكَ، فَهَذَا فِي التَّهْنِئَةِ بِالْأُمُورِ الْمُشْتَرَكَةِ.

Maksudnya: "Fasal pada menyatakan (hukum) mengucapkan Tahniah kepada mereka (kaum kafir) bersempena perkahwinan atau mendapat anak atau pulangnya orang yang hilang atau sembuh dari sakit atau terselamat dari mara bahaya dan seumpamanya. Telah berbeza riwayat daripada Ahmad (Imam Ahmad) berkenaanya, kadang-kadang beliau mengharuskannya dan kadang-kadang beliau melarang dan perbahasan mengenai perkara ini seumpama perbahasan mengenai takziah dan melawat mereka semasa sakit tidak ada perbezaan antara keduanya tetapi hendaklah dia menjauhi daripada terjebak dalam perkara yang terjebak padanya kaum yang jahil daripada mengucapkan lafaz-lafaz yang menunjukkan keredaan terhadap agamanya seperti berkata: "Semoga ALLAH membahagiakan kamu dengan agama kamu" atau berkata: "Semoga ALLAH memuliakan kamu" melainkan (harus) dia berkata: "Semoga ALLAH memuliakan kamu dengan Islam dan mengukuhkan kamu dengannya" dan ucapan seumpama ini. Ini adalah perbahasan berkenaan mengucapkan tahniah dalam perkara-perkara yang berkongsi (antara kaum kafir dan muslimin)".

وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ، وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ.

Maksudnya: "Adapun mengucapkan Tahniah bersempena Syiar-syiar Kufur yang khusus dengan mereka maka ini adalah HARAM dengan SEPAKAT (Ijmak) seperti: Mengucapkan Tahniah sempena PERAYAAN mereka atau Puasa mereka maka dia berkata: "Selamat Hari Raya", "Tahniah sempena perayaan ini" dan seumpamanya maka perbuatan ini jika penuturnya selamat daripada kufur maka ia tidak lepas daripada perbuatan yang HARAM dan dia seumpama orang yang mengucapkan tahniah kepada kaum kafir sempena dia bersujud kepada Salib bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi ALLAH dan lebih dibenci di sisi ALLAH daripada seseorang yang mengucapkan tahniah bersempena seseorang itu meminum arak, membunuh orang, berzina, dan seumpamanya".

وَكَثِيرٌ مِمَّنْ لَا قَدْرَ لِلدِّينِ عِنْدَهُ يَقَعُ فِي ذَلِكَ، وَلَا يَدْرِي قُبْحَ مَا فَعَلَ، فَمَنْ هَنَّأَ عَبْدًا بِمَعْصِيَةٍ أَوْ بِدْعَةٍ أَوْ كُفْرٍ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِمَقْتِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ

Maksudnya: "dan kebanyakan orang yang tiada pengetahuan agama terjebak dalam perkara ini dan dia tidak sedar betapa kejinya perbuatannya itu, maka barangsiapa yang mengucapkan tahniah kepada seseorang sempena perbuatan maksiat atau bid'ah atau kufur maka dia telah terdedah kepada kebencian ALLAH yang amat dahsyat dan kemurkaanNya".

وَقَدْ كَانَ أَهْلُ الْوَرَعِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يَتَجَنَّبُونَ تَهْنِئَةَ الظَّلَمَةِ بِالْوِلَايَاتِ، وَتَهْنِئَةَ الْجُهَّالِ بِمَنْصِبِ الْقَضَاءِ وَالتَّدْرِيسِ وَالْإِفْتَاءِ تَجَنُّبًا لِمَقْتِ اللَّهِ وَسُقُوطِهِمْ مِنْ عَيْنِهِ، وَإِنْ بُلِيَ الرَّجُلُ بِذَلِكَ فَتَعَاطَاهُ دَفْعًا لِشَرٍّ يَتَوَقَّعُهُ مِنْهُمْ فَمَشَى إِلَيْهِمْ وَلَمْ يَقُلْ إِلَّا خَيْرًا، وَدَعَا لَهُمْ بِالتَّوْفِيقِ وَالتَّسْدِيدِ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ.

Maksudnya: "dan adalah ahli wara' daripada kalangan Ulama' menjauhi daripada mengucapkan tahniah kepada orang zalim yang mendapat jawatan dan memberi tahniah kepada kaum jahil yang menjawat jawatan hakim, guru, dan fatwa kerana menjauhi daripada kebencian ALLAH dan jatuhnya darjat mereka pada mata ALLAH. Jika seseorang diuji (terpaksa) melakukan perbuatan itu maka dia melakukannya untuk mengelakkan keburukan yang dia jangka berlaku daripada mereka (pemimpin yang zalim) maka hendaklah dia pergi kepada mereka dalam keadaan dia tidak mengucapkan kecuali yang baik-baik dan mendoakan kepada mereka dengan Taufiq dan Tasdid maka tidak mengapa. Wa billahi al-Taufiq".

[Kitab Ahkam Ahl al-Zimmah, 1/441-442].

Diterjemah oleh:
Muhammad Asrie b Sobri
Kuliah Dakwah & Usuluddin, Uni. Islam Madinah Nabawiah

masalah imam solat rawatib

Kalau masjid tu ada imam rawatib, adakah wajib utk kita tunggu imam rawatib tu dulu baru boleh solat berjemaah? Kalau ya, apakah dalil nya?
 sunnah menunggu imam rawatib berdalilkan para sahabat menunggu Nabi untuk solat w/pun ketika Nabi sedang uzur.. w/a..

hukum ini berbalik kepada hukum solat jemaah ke-2 di dalam 1 masjid.. ulamak berkhilaf tentang hal ini.. Jumhur melarang jemaah ke-2.. Oleh itu, afdhal tunggu imam la..
 Sheikh Ibn Utsaimin ketika beliau ditanya, bagaimana hukum mengerjakan jemaah kedua pada masjid yang terdapat imam rawatib? Beliau menjawab : Mengerjakan jemaah kedua pada masjid yang memiliki imam rawatib (tetap), jika dilakukan terus-menerus, maka ini menjadi satu kebidaahan. Namun, bila itu hanya kadang-kadang (dilakukan), misalnya oleh sekelompok orang yang datang ke masjid dan mendapatkan orang lain yang telah selesai shalat. Di sini mereka dibolehkan dan tidak mengapa mengerjakan solat berjemaah (kedua). Adapun pendapat yang menyatakan, hal ini sebagai satu kebidaahan (haram), maka pendapat ini lemah, kerana dahulu Rasulullah SAW duduk bersama para sahabatnya, lalu masuk seseorang yang belum solat. Rasulullah bersabda:

أَلَا رَجُلٌ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّيَ مَعَهُ فَقَامَ رَجُلٌ فَصَلَّى مَعَهُ

Adakah orang yang mahu bersedekah kepada orang ini, lalu solat bersamanya? Lalu ada seseorang yang bangkit dan solat bersamanya.

Hukum khiyar

Ape hukum kalu kite dah buat deal nak beli tapi last minute kite tak beli? Sedangkan penjual tu dapat banyak offer. Lepas buyer ni tak nak beli, buyers lain pon dah tak minat nak beli sbb dorang dah beli bende lain. Dose ke buyer yg tarik balik last minute atau tu adelah hak dia utk tak nak beli??
 NAbi saw kata: "Al-Bayyi'an (penjual dan pembeli) mempunyai hak khiyar (memilih untuk meneruskan jual beli atau membatalkannya) selama kedua-duanya belum berpisah." Maksud berpisah ni Ulama kata kena rujuk adat setempat. Dalam soalan di atas nampak macam ok lagi utk dibatalkan, sebab harga pun tak letak lagi. WA
 

Larangan berdebat

SUNNAH YANG DIREMEHKAN YAKNI MENGENAI LARANGAN BERDEBAT

‎
Assalamualaikum, Bismillah, antara kalam2 al ulama' sunnah al manhaj Salafusolleh Rahimullahu taala tentang MENINGGALKAN PERDEBATAN : Asy Syaikh Abu Ibrahim Muhammad bin 'Abdul Wahhab Al Wushobi Al Abdaly hafizahulloh  Wahai penuntut ilmu, jika kamu membuka pintu debat bersama temanmu maka sunguh kamu telah membuka pintu penyakit fitnah buat dirimu. Apabila seorang penuntut ilmu tidak menjauhkan diri darinya, tentu akan mendapat marabahaya. Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Tidaklah sesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan petunjuk kecuali Allah berikan kepada mereka ilmu debat."Kemudian baginda membaca:  ('Mereka tidak memberikan perumpamaan kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar')."[HR. At Tirmidzi dan selainnya dari shahabat Abu Umamah Al Bahily). Saya masih teringat seorang teman ketika awal belajar di Madinah, mungkin kurang lebih dua puluh empat atau dua puluh lima tahun yang silam, dia terkenal banyak berdebat. Terkadang dia berdebat mulai setelah isya' sampai akhir malam.

Ternyata pada akhirnya dia mendapatkan kegagalan, tidak menjaga waktu, tidak beristighfar, bertasbih, bertahlil, bangun malam, dan tidak menjalankan bimbingan Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wa Sallam. Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wa Sallam bukanlah suka berdebat. Tatkala Rosululloh pergi ke rumah Fathimah dan Ali ketika baginda ingin membangunkan keduanya untuk sholat malam, baginda mengetuk pintu dan berkata: "Tidaklah kalian bangun untuk sholat malam ? Ali mengatakan: "Sesungguhnya jiwa kami di tangan Allah, dia membangunkan sesuai dengan kehendak-Nya.

" Baginda Shollallohu 'Alaihi Wa Sallam balik sambil memukul pahanya dan berkata: "Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat." QS. Al Kahfi: 54 Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wa Sallam tidak mendebat Ali, dan baginda menganggap apa yang dijawab Ali termasuk dari jidal (debat) dengan berdalilkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala: "Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat." (QS. Al Kahfi: 54). Wahai penuntut ilmu jauhilah dari perdebatan, kerana yang demikian itu menyebabkan kemurkaan dan kebencian di dalam hati. Katakan kepada temanmu apa yang kamu ketahui, kalau temanmu mengatakan tidak, kembalikanlah permasalahannya kepada syaikhmu, dan sekali lagi menjauhlah kaum dari perdebatan. Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:"Apabila kamu berselisih di dalam Al Qur'an maka tinggalkan tempat itu."[Muttafaqun 'Alaihi]

Maksudnya: “Oleh sebab itu jika mereka berhujah membantahmu maka katakanlah: Aku telah berserah diriku kepada Allah dan demikian juga orang yang mengikutku. Dan bertanyalah kepada orang yang diberi Kitab, dan orang yang buta huruf: Sudahkah kamu mematuhi dan menurut (agama Islam yang aku bawa itu)? Jika mereka memeluk  Islam, maka sebenarnya mereka telah medapat petunjuk; dan jika mereka  berpaling, maka sesungguhnya kewajipanmu hanyalah menyampaikan (dakwah Islam itu). Dan (ingatlah), Allah Maha Melihat (tingkah laku) sekalian hamba-Nya.” (Ali Imran: 20)

Sebelum kita menyimak apa yang dikatakan para ulama tentang perdebatan, kita hendaknya meresapi kandungan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ
“Tidak ada satu kaum yang tersesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berjidal (debat untuk membantah)." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca ayat: "Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. [Az-Zuhruf: 58]” (HSR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

I. Perkataan Imam Asy-Syafii rahimahullah1. Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan tentang Imam Asy-Syafii rahimahullah:
وَكَتَبَ إلَيْهِ رَجُلٌ يَسْأَلهُ عَنْ مُنَاظَرَة أَهْلِ الْكَلَامِ ، وَالْجُلُوس مَعَهُمْ، قَالَ: وَاَلَّذِي كُنَّا نَسْمَع وَأَدْرَكْنَا عَلَيْهِ مَنْ أَدْرَكْنَا مِنْ سَلَفِنَا مِنْ أَهْل الْعِلْم أَنَّهُمْ كَانُوا يَكْرَهُونَ الْكَلَامَ وَالْخَوْضَ مَعَ أَهْل الزَّيْغ وَإِنَّمَا الْأَمْر فِي التَّسْلِيم وَالِانْتِهَاء إلَى مَا فِي كِتَابِ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ رَسُوله لَا تَعَدَّى ذَلِكَ .
Seseorang menulis surat kepada Imam Asy-Syafii menanyainya tentang berdebat dengan ahli kalam dan duduk-duduk bersama mereka. Imam Syafii berkata: “Yang kami dengar dan kami dapati dari salaf (pendahulu) kami dari para ulama, bahwa mereka membenci ilmu kalam dan berdebat dengan orang-orang menyimpang. Agama itu hanyalah dalam tunduk dan berhenti kepada apa yang ada di Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak melampuinya.”

2. Az-Za’faroni berkata: Aku mendengar Asy-Syafii rahimahullah berkata:
مَا نَاظَرْتُ أَهْلَ الْكَلَام إلَّا مَرَّةً وَأَنَا أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذَلِكَ .
“Aku tidak mendebat ahli kalam kecuali sekali. Dan setelah itupun aku beristighfar kepada Allah dari hal itu.”

3. Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata:
الْمِرَاءُ فِي الْعِلْمِ يُقَسِّي الْقُلُوبَ وَيُوَرِّثُ الضَّغَائِنَ .
“Berdebat dalam ilmu akan membuat keras hati dan mewariskan dendam.”

II. Perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah1. Beliau berkata:
كُلَّمَا جَاءَ رَجُلٌ أَجْدَلُ مِنْ رَجُلٍ تَرَكْنَا مَا نَزَلَ بِهِ جِبْرِيلُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِجَدَلِهِ ، وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ : { عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي } الْخَبَرُ .
“Apakah setiap datang seseorang yang lebih pandai berdebat dari orang lain, kami akan meninggalkan wahyu yang diturunkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam karena perdebatannya. Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terlah bersabda: ‘Wajib kalian memegang teguh sunnahku’.”

2. Abul Muzhaffar As-Sam’ani berkata dalam Kitab Al-Intishor Li Ahlil Hadits: Imam Malik rahimahullah pernah ditanya siapa ahli bid’ah itu. Maka beliau menjawab:
أَهْلُ الْبِدَعِ الَّذِينَ يَتَكَلَّمُونَ فِي أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ وَكَلَامِهِ وَعِلْمِهِ وَقُدْرَتِهِ ، وَلَا يَسْكُتُونَ عَمَّا سَكَتَ عَنْهُ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ .
“Ahli Bid’ah adalah orang-orang yang berbicara tentang Nama-Nama Allah, Sifat-Sifat-Nya, Kalamullah, Ilmu-Nya, dan Taqdir Allah, dan mereka tidak diam dari perkara yang para shohabat dan tabiin diam darinya.”

3. Imam Malik rahimahullah berkata:
لَيْسَ هَذَا الْجَدَلُ مِنْ الدِّينِ بِشَيْءٍ .
“Tidaklah jidal ini sedikitpun dari agama Islam.”

Baca selanjutnya" Fatwa Al-Imam Asy-Syafii dan Ulama Madzhab Asy-Syafiiyyah: Larangan berdebat dan jidal Ahli Kalam

III. Perkataan Imam Ahmad rahimahullah1. Abdus bin Malik Al-‘Aththar berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata:
أُصُولُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالِاقْتِدَاءُ بِهِمْ ، وَتَرْكُ الْبِدَعِ ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلَالَةٌ ، وَتَرْكُ الْخُصُومَاتِ، وَالْجُلُوسِ مَعَ أَصْحَابِ الْأَهْوَاءِ ، وَتَرْكُ الْمِرَاءِ وَالْجِدَالِ.وَالْخُصُومَاتِ فِي الدِّينِ ... لَا تُخَاصِمْ أَحَدًا وَلَا تُنَاظِرْهُ ، وَلَا تَتَعَلَّمْ الْجِدَالَ فَإِنَّ الْكَلَامَ فِي الْقَدَرِ وَالرُّؤْيَةِ وَالْقُرْآنِ وَغَيْرِهَا مِنْ السُّنَنِ مَكْرُوهٌ مَنْهِيٌّ عَنْهُ لَا يَكُونُ صَاحِبُهُ إنْ أَصَابَ بِكَلَامِهِ السُّنَّةَ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ حَتَّى يَدَعَ الْجِدَالَ .
“Pokok-pokok aqidah menurut kami adalah berpegang teguh dengan yang dipegang oleh para shohabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan meneladani mereka, serta meninggalkan bid’ah. Karena semua bid’ah itu sesat. Dan juga untuk meninggalkan percekcokan dan duduk-duduk bersama ahlul ahwa, serta meninggalkan perdebatan, jidal, dan percekcokan dalam agama ... Janganlah engkau cekcok dengan seorangpun dan jangan mendebatnya. Janganlah engkau mempelajari jidal, sesungguhnya ilmu kalam dalam aqidah seperti dalam masalah taqdir, ru’yah (melihat Allah di hari kiamat), Al-Qur’an, dan lainnya adalah dibenci dilarang. Tidaklah pelakunya walau dia mencocoki aqidah (yang benar) dengan ilmu kalamnya menjadi ahlussunnah, sampai dia meninggalkan jidal.”

Baca selanjutnya" Fatwa Al-Imam Asy-Syafii dan Ulama Madzhab Asy-Syafiiyyah: Larangan berdebat dan jidal Ahli Kalam.


Imam Malik menegaskan hal yang penting ini, sebagaimana dinukil oleh Imam as-Satibi dalam kitab al-’Itisom bahwa debat yang tidak berguna itu tidak termasuk dalam bagian agama sama sekali (bid’ah). Imam al-Lalikai menukil perkataan Imam Malik dalam kitab Syarhul Usul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah berkata,

“Aku membenci debat dalam permasalahan-permasalahan agama. Dan penduduk negri kita (Madinah) senantiasa membenci dan melarangnya, seperti berdebat seputar pemikiran Jahmiah dan Qadariah dan yang semacamnya. Dan aku membenci perbincangan, kecuali perbincangan yang akan mendatangkan manfaat berupa amal.”

Ibnu Abdil Bar menyatakan dalam kitab beliau Jami al-Bayan al-Ilmi, menukil perkataaan Imam Ahmad bahwa beliau berkata,
“Berpeganglah kalian dengan atsar sahabat dan al-hadits, dan sibukkanlah diri kalian dengan hal-hal yang bermanfaat. Jauhilah berbantah-bantahan, karena orang yang suka berdebat tak akan pernah beruntung.”

Beliau juga berkata,
“Tak akan pernah bahagia orang yang suka berdebat. Dan tidaklah engkau menjumpai seseorang yang suka berdebat kecuali di hatinya tersimpan sebuah penyakit.”

Imam al-Ajuri di dalam kitab beliau asy-Syari’ah, menyinggung pokok yang penting ini. Dia menukil perkataan Imam al-Auzai yang berkata,

“Hendaklah kalian berpegang teguh pada jejak generasi salaf walaupun kalian ditinggalkan manusia. Dan janganlah kalian tergiur oleh pendapat-pendapat orang belakangan walaupun dipoles dengan ungkapan-ungkapan indah.”

Inilah jalan para generasi Salafus shaleh. Mereka melarang manusia dari debat sia-sia tentang agama. Dan keengganan mereka untuk berdebat itu bukanlah karena mereka itu bodoh atau karena takut kepada manusia atau karena tidak mampu sebagaimana diduga oleh sebagian orang bodoh. Tetapi mereka mengekang dari hal itu semata-mata takut kepada Allah.

Sebagaimana dinukil Imam al-Ajuri dalam kitab beliau asy-Syari’ah dari Ibnu Sirrin, beliau berkata kepada seseorang yang mengajak beliau untuk berdebat,

“Aku mengerti apa yang engkau inginkan; dan sebenarnya aku lebih pandai bersilat lidah daripada kamu, tetapi aku tidak berselera untuk berdebat denganmu.”

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab beliau Fadlu Ilmi Salaf menegaskan ketentuan ini dan membantah orang yang menuduh bahwa generasi salaf (karena tidak banyak bicara) sebagai orang yang lemah dan bodoh. Beliau berkata,

“Sungguh telah terfitnah orang banyak dari generasi kiwari ini dengan penyakit suka bedebat atau berbantah-bantahan. Mereka menyangka bahwa orang yang banyak bicara dan berdebat dalam masalah agama adalah lebih alim dari orang yang tidak banyak bicara dan berdebat. Hal ini sangat bodoh karena komentar-komentar generasi tabi’in lebih banyak dari pada komentar para sahabat, padahal para sahabat lebih alim dari tabi’in; dan begitu pula komentar-komentar generasi tabiut tabi’in lebih banyak dari generasi tabi’in, padahal generasi tabi’in lebih alim dari generasi tabiut tabi’in.”


Adapun debat yang sesuai syari’at (dalam rangka mendakwahi orang-orang jahil, atau dalam rangka sama-sama mencari kebenaran) adalah yang diperintahkan Allah seperti dalam firman-Nya,

“Mereka berkata, Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami.” (QS. Hud:32)


Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. al-An’am:83)



Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Rabbnya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan)? Ketika Ibrahim mengatakan, Rabbku ialah yang menghidupkan dan mematikan, orang itu berkata, Saya dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata, Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. al-Baqarah:258)



“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl:125)


…dan ayat-ayat lain yang semisalnya. Bahkan justru merupakan sesuatu yang wajib atau mustahab (yang dianjurkan). Jidal (adu hujjah) seperti ini tidaklah dilarang dan dicela oleh syari’at.
Beliau juga berkata,

“Jadi,yang dimaksud larangan para salaf dalam berdebat adalah yang dilakukan oleh orang yang tidak memenuhi syarat untuk melakukan perdebatan (kurang ilmu dan lain-lain) atau perdebatan yang tidak mendatangkan kemaslahatan yang pasti; berdebat dengan orang yang tidak menginginkan kebenaran, serta berdebat untuk saling unjuk kebolehan dan saling mengalahkan yang berujung dengan ujub (bangga diri) dan kesombongan.


Jidal (adu hujjah) adalah masalah yang hukumnya belum pasti; dan untuk menentukan hukum tentang masalah ini, tergantung kepada kondisi yang ada. Sedangkan debat yang sesuai dengan syari’at, maka hukumnya terkadang wajib dan terkadang mustahab.


Kesimpulannya, debat itu terkadang terpuji dan terkadang tercela; terkadang membawa mafsadat (kerusakan) dan terkadang membawa mashlahat (kebaikan); terkadang merupakan sesuatu yang haq dan terkadang merupakan sesuatu yang bathil.”

Wallahua'lam.. Pesanan untuk diri ana juga insyaallah.. Barakaallahufeekum..
jika ada kesalahan dalam teks ini sila tegur untuk pembetulan diri ana insyaallah..

by ‎محمد عريف الحضرمي





 

peliharalah agamamu?

iNGATLAH! gigitlah dengan gigi graham



SEBAGAI MEREKA YANG AHLI DALAM ILMU AGAMA DAN MERASA SUDAH TIDAK PERLU UNTUK MENUNTUT ILMU MAKA ANA MENGESYORKAN AGAR KELUAR PERGI MENUNTUT ILMU YANG BENAR-BENAR DARI NABI DAN BUKAN DARI PERKARA-PERKARA YANG DIREKA-REKA OLEH GURU ANDA.

INGATLAH!

DALAM PENYAMPAIAN AGAMA, SEMUA USTAZ, USTAZAH, ULAMAK, ILMUAN AGAMA, YANG KELIHATAN HALIM, IMAM, BILAL, AHLI MASJID, ANDA DAN SAYA ADALAH PEMBOHONG BELAKA. KECUALI JIKA DIBAWAKAN
DALIL DARI AL-QURAN DAN HADIS. HADIS TIDAK DAPAT DIPISAHKAN DARI AL-QURAN KERANA SETIAP AYAT AL-QURAN ADA KISAHNYA DAN ADA HADISNYA DARI NABI SAW.

SIKAP AHLI SUNNAH WAL-JAMAAH TERHADAP PEMERINTAH & PEMIMPIN ISLAM

Bagi setiap mukmin, apabila terjadi perselisihan tentang apa sahaja perkara yang berkait dengan islam, sama ada tentang aqidah, hukum-hakam, kenegaraan atau politik (siyasah), maka jalan penyelesaiannya yang paling benar adalah kembali kepada Al-Quran dan Hasis yang sahih.

Perkara yang telah ditekankan oleh Rasullullah sallallahu’alaihi wa-sallam:

Maksudnya:

“Rasullullah sallallahu’alaihi wa-sallam telah memberi peringatan kepada kami dengan satu peringatan dengannya menggeletar hati-hati dan berlinangan air mata, maka kami berkata: Whai Rasullullah! Seakan-akan peringatan ini peringatan perpisahan, maka berilah kami wasiat. Maka baginda bersabda: Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu sekelian bertaqwa kepada Allah, sentiasa mendengar dan taat, walaupun kamu diperintahkan oleh seorang hamba (budak) Habsyi, maka sesungguhnya barangsiayang hidup dari kamu (berumur panjang), pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh iyu wajib bagi kamu berpegang teguh dengan sunnahku serta sunnah khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi graham. Berjaga-jagalah dari perkara yang baru, maka setiap yang baru itu bid’ah dan setiap yang bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di neraka”. (Lihat: Arba’in Nawawi. Nawawi berkata: Diriwayatkan oleh Abu Daud dan tirmizi dab berkata termizi: Hadis Hasan).

Masyarakat islam di Malaysia, telah sekian lama berselisih faham tentang pengertian atau difinisi Negara ialam, kafir-mengkafirkan dan persoalan siyasah (politik) yang menyebabkan saling menuduh bahawa pendirina masing-masing telah islamik atau benar. Oelh kerana persoalan ini isu agama, mak ia perlu dikembalikan kepada sunnah Rasullullah sebagimana peringatan Rasullullah pada hadis yang dibentangkan di atas. Ia bukan diserahkan kepada pendapat manusia yang berkecamuk dan bermacam-macam persepsi.

Iman yang suci

Iman Yg Suci.

Iman yg suci adalah Iman yang tidak dicampuri dengan kesyirikan sedikitpun, sebagaimana firman Allah ta’ala:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan hidayah.” [Al-An'am: 82]

Kezaliman dalam

ayat di atas adalah kesyirikan, sebagaimana dijelaskan dalam hadith:

عَنْ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا نَزَلَتِ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ} قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ قَالَ لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ {لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ} بِشِرْكٍ أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ {يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau berkata, ‘Ketika turun firman Allah ta’ala, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan keimanan mereka dengan kezaliman,” kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, siapa diantara kami yang tidak menzalimi dirinya sendiri?’
Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
‘Kezaliman yang dimaksud tidak seperti yang kalian katakan, tetapi “…dan tidak mencampurkan keimanan mereka dengan kezaliman,” maksudnya dengan kesyirikan, tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman kepada anaknya, “Wahai anakku janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang besar”.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Kesimpulannya, mereka tidak benar-benar menyembah Allah ta’ala, tidak juga beriman kepada-Nya, sebab mereka masih membolehkan kesyirikan, kerana prinsip mereka tidak boleh menyalahkan siapa pun meskipun perbuatan syirik dan kekafiran.

Definisi negara Islam


DEFINASI NEGARA ISLAM

            Sebuah Negara islam, walaupun bermasyarakat plural (majmuk) dan mempunyai kepelbagaian agama dan budaya, namun apabila majority rakyatnya beragaman islam, dipimpin oleh penguasa yang beragaman islam keselamatan, kekuatan dan pertahanannya masih dikuasai oleh pemimpin islam, pemimpinnya masih mendirikan solat, laungan suara azan masih terus berkumandang dan penguasa masih terus menguasai urusan kaum uslimin, maka ia dinamakan Negara islam. Petanda Negara islam yang dijelaskan oleh imam Nawani dan imam Ahmad yang disebut di atas, dalilnya diambil dari beberapa buah hadis sahih, antaranya sabda Rasullullah sallallahu’alaihi wa-sallam:

Maksudnya:
            “Akan ada selepas peninggalanku nanti pemimpin yang kamu mengenalinya dan mengingkari kejahatannya, maka sesiapa yang mengingkari kejahatannya (bermakna) dia telah berlepas diri dan sesiapa yang membenci kejahatanya dia telah selamat, akan tetapi ornag yang meredhai kejahatannya akan mengikut kejahatannya. Apakah tidak kita perangi mereka dengan pedang (wahai Rasullulah!)? Baginda menjawap: Jangan! Selagi mereka masih mendirikan solat di kalangan kamu”. (Hadis Riwayat Muslim 6/23.).

            Dengan penjelasan hadis ini, menurut perspektif ulama Salaf as-Soleh dan ahli hadis, suatu Negara dinamakan Negara islam apbila tanda besar iaitu azan dikumandangkan dan solat ditegakkan. (Al-Manhaj as-salafi inda Nasruddin al-Albani. Halaman 215. Amru Abdul Mun’im Salim). Tanda seterusnya ialah larangan oleh Rasullullah sallallahu’alaihi wa-sallam memeranginya dengan pedang (haram Menjatuhkannya).

            Dalam konteks ini, Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wa-sallam menyeru agar bersabar terhadap pemimpin dan penguasa selagi mereka bersolat, kerana ia adalah makna keislaman yang pertama sekalipun tidak berhukum dengan hukum islam, kerana petanda dan bukti utama seseorang itu pemimpin islam adalah solatnya sebagaimana sabda baginda:


Maksudnya:
            “ Dari Abi Umamamah al-Bahili, dari Rasullullah sallallahu’alaihi wa-sallam baginda bersabda: ikatan-ikatan islam akan terlepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan akan diikuti oleh ikantan berikutnya. Ikatan islam yang pertama kali lepas adalah hukum dan yang terakhir adalah solat”. (Hadis Riwayat Ahmad. 5/251)

oleh: Zaidie assalafy

Fatwa Ulama Tentang Hukum Boikot Produk Yahudi

Fatwa Ulama Tentang Hukum Boikot Produk Yahudi

Sebagai orang yang ingin selalu mencari kebenaran, ketika tersesat atau bingung mau berjalan ke mana, tentu akan bertanya pada orang yang lebih mengetahui jalan tersebut. Dalam masalah diin (agama), tentu saja ketika bingung, ulama-lah yang jadi tempat bertanya.

Allah Ta’ala berfirman,


فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 43 dan Al Anbiya’: 7)

[Fatwa Pertama]

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanyakan,

“Wahai Syaikh yang mulia, ada sebuah minuman yang dinamakan Coca-Cola yaitu minuman produk perusahaan Yahudi. Apa hukum meminum minuman ini dan apa hukum menjualnya? Apakah kalau menjualnya termasuk bentuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan?”

Syaikh rahimahullah menjawab,

“Apakah tidak sampai padamu hadits yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membeli makanan dari seorang Yahudi untuk keluarganya, lalu tatkala beliau meninggal dunia, baju besinya masih tergadai pada orang Yahudi tersebut?

Apakah juga tidak sampai padamu hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menerima hadiah dari seorang Yahudi.

Jika kita mengatakan: Jangan menggunakan produk Yahudi atau jangan memakan produk Yahudi, maka akan luput nantinya berbagai hal yang dinilai manfaat semacam mobil-mobil yang kebanyakan dikerjakan oleh orang Yahudi atau akan hilang di tengah-tengah hal-hal yang bermanfaat lainnya yang hanya diproduksi oleh orang-orang Yahudi.

Memang benar bahwa minuman semacam ini kadang ada unsur bahaya dari orang Yahudi karena sudah diketahui bahwa orang Yahudi bukanlah orang yang amanat. Contohnya adalah mereka pernah meletakkan racun pada daging kambing yang dihadiahkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala kematian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengatakan, “Aku terus merasakan rasa sakit disebabkan makanan yang dulu pernah kumakan di Khoibar. Karena racun inilah terputuslah urat nadiku (kematianku)”. Oleh karena itu, Az Zuhri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat karena dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Semoga Allah melaknati mereka. Semoga Allah juga melaknati orang-orang Nashrani.” Jadi, mereka semua tidak dapat dipercaya, baik orang Yahudi maupun Nashrani. Akan tetapi, aku menduga bahwa barang yang sampai kepada kita ini pasti sudah dicek dan sudah diuji keamanannya, juga sudah diketahui bermanfaat ataukah tidak.” (Kaset Liqo’ Al Bab Al Maftuh no.64)

[Fatwa Kedua]

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhohullah pernah ditanyakan,

“Wahai Syaikh yang mulia, terpampang di koran-koran saat ini seruan untuk pemboikotan produk Amerika. Di antaranya apa yang tertulis hari ini bahwa para ulama kaum muslimin menyeru pemboikotan dan aksi ini dikatakan fardhu ‘ain, setiap muslim wajib melakukan pemboikotan ini. Ada yang mengatakan bahwa membeli satu saja dari barang-barang ini adalah haram dan pelakunya telah berbuat dosa besar, telah menolong Amerika dan membantu Yahudi memerangi kaum muslimin. Saya mengharap Syaikh yang mulia bisa menjelaskan hal ini.”

Syaikh hafizhohullah menjawab,

“Yang pertama: Saya meminta salinan surat kabar atau perkataan yang disebutkan oleh penanya tadi. Yang kedua: fatwa semacam tadi tidaklah benar. Para ulama tidak berfatwa bahwa produk Amerika itu haram. Produk-produk Amerika tetap ada dan masih dipasarkan di tengah-tengah kaum muslimin. Jika engkau tidak membeli produk Amerika, itu pun tidak membahayakan mereka. Memboikot produk tertentu hanya boleh dilakukan jika ada keputusan dari penguasa kaum muslimin. Jika penguasa kaum muslimin memerintahkan untuk memboikot suatu produk, maka kaum muslimin wajib untuk memboikot. Adapun jika itu hanya seruan dari person-person tertentu dan mengeluarkan suatu fatwa, maka ini berarti telah mengharamkan apa yang Allah halalkan.” (Dari kaset Fatwa Ulama dalam Masalah Jihad dan Aksi Bunuh Diri dari Tasjilat Minhajus Sunnah Riyadh. Dinukil dari Majalah Al Furqon, IV/12)

Untuk melengkapi dua fatwa di atas, kami tambahkan lagi dengan fatwa Al Lajnah Ad Da’imah (Komisi Fatwa di Kerajaan Saudi Arabia)

[Fatwa Ketiga – Fatwa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts wal Ifta’]

Soal Ketiga dari Fatawa no. 3323

Pertanyaan:

Apa hukum kaum muslimin tidak saling tolong menolong yaitu mereka tidak saling ridho dan tidak punya keinginan untuk membeli produk dari saudara mereka sesama muslim? Namun yang ada malah dorongan untuk membeli dari toko-toko orang kafir, apakah seperti ini halal atau haram?

Jawab:

Perlu diketahui, dibolehkan bagi seorang muslim untuk membeli kebutuhannya yang Allah halalkan baik dari penjual muslim maupun kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah melakukan jual beli dengan seorang Yahudi. Namun jika seorang muslim berpindah ke penjual kafir tanpa ada sebab. Di antara sebabnya misalnya penjual muslim tersebut melakukan penipuan, menetapkan harga yang terlalu tinggi atau barang yang dijual rusak/cacat. Jika itu terjadi dan akhirnya dia lebih mengutamakan orang kafir daripada muslim, maka ini hukumnya haram. Perbuatan semacam ini termasuk loyal (wala’), ridho dan menaruh hati pada orang kafir. Akibatnya adalah hal ini bisa membuat melemahnya dan lesunya perekonomian kaum muslimin. Jika semacam ini jadi kebiasaan, akibatnya adalah berkurangnya permintaan barang pada kaum muslimin.

Adapun jika di sana ada faktor pendorong semacam yang telah disebutkan tadi (yaitu penjual muslim yang sering melakukan penipuan, harga barang yang terlalu tinggi atau barang yang dijual sering ditemukan cacat), maka wajib bagi seorang muslim menasehati sikap saudaranya yang melakukan semacam itu yaitu memerintahkan agar saudaranya tersebut meninggalkan hal-hal jelek tadi. Jika saudaranya menerima nasehat, alhamdulillah. Namun jika tidak dan dia malah berpaling untuk membeli barang pada orang lain bahkan pada orang kafir, maka pada saat itu dibolehkan mengambil manfaat dengan bermua’amalah dengan mereka.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Al Lajnah Ad Daa-imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Iftaa’

Anggota: ‘Abdullah bin Qu’ud, ‘Abdullah bin Ghodyan

Wakil Ketua: ‘Abdur Rozaq ‘Afifi

Ketua: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz

Kesimpulan

Seorang muslim dilarang untuk loyal (wala’) pada orang kafir, di antara bentuknya adalah menyerupai mereka (tasyabbuh) dalam hal yang menjadi ciri khas mereka. Namun apakah boleh menggunakan produk orang kafir? Jawabannya adalah boleh-boleh saja. Akan tetapi, masalah selanjutnya adalah bolehkah membeli produk orang kafir sedangkan masih ada produk kaum muslimin?Jawabannya adalah dalam dua rincian berikut:

[Pertama] Jika seorang muslim berpindah ke penjual kafir tanpa ada sebab. Di antara sebabnya misalnya penjual muslim tersebut melakukan penipuan, menetapkan harga yang terlalu tinggi atau barang yang dijual rusak/cacat. Jika itu terjadi dan akhirnya dia lebih mengutamakan orang kafir daripada muslim, maka ini hukumnya haram.

[Kedua] Adapun jika di sana ada faktor pendorong semacam penjual muslim yang sering melakukan penipuan, harga barang yang terlalu tinggi atau barang yang dijual sering ditemukan cacat, maka wajib bagi seorang muslim menasehati sikap saudaranya yang melakukan semacam itu yaitu memerintahkan agar saudaranya tersebut meninggalkan hal-hal jelek tadi. Jika saudaranya menerima nasehat, alhamdulillah. Namun jika tidak dan dia malah berpaling untuk membeli barang pada orang lain bahkan pada orang kafir, maka pada saat itu dibolehkan mengambil manfaat dengan bermua’amalah dengan mereka.



Alhamdulillah, Allah telah memudahkan untuk menyelesaikan tulisan ini. Semoga Allah memahamkan kaum muslimin terhadap aqidah yang mulia ini yaitu berlepas diri dari orang-orang kafir dan tidak loyal terhadap mereka.

Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, amalan yang sholeh dan rizki yang thoyib.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.



***

Selesai disusun di rumah mertua tercinta, Panggang, Gunung Kidul, 13 Jumaadits Tsani 1430 H.

Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal